Ini adalah halaman pertama dari e-book Mari Menikmati! di dalam Acrobat Reader, lengkap dengan bookmark:
Wednesday, July 4, 2007
Halaman Pertama
Labels: halaman pertama, Mari Menikmati, pdf
Monday, July 2, 2007
Daftar Isi
Mari Menikmati!
Daftar Isi
Pendahuluan
1. Berdosakah kalau Saya mengejar Kenikmatan dan Kebahagiaan?
Berdosakah kalau kita menikmati dan hidup dalam kenikmatan?
Definisi Kenikmatan
Kenikmatan dan Sangkal Diri
Kenikmatan dan Pikul Salib
Siapa yang berdosa?
2. Dimana Allah ketika saya menikmati?
Mengejar kenikmatan sementara
Membuang semua kenikmatan sementara
Membuang sebagian dan mengejar sebagian
Menikmati tapi tanpa hasrat untuk mengejar kenikmatan
Kenikmatan sementara adalah Anugerah Allah untuk memuliakan Allah dan belajar menikmati Allah
Anda berada di mana?
3. Di mana saya ketika Allah menikmati?
Allah adalah Pribadi yang paling Menikmati
Kenikmatan Allah di dalam ciptaanNya yang sementara
Allah menginginkan manusia menikmati
4. Selain Kau tiada yang lain
Menikmati di dalam Pengenalan akan Allah
Menikmati di dalam Persekutuan dan PenyertaanNya
Menikmati Berkat-berkatNya
5. Sungguh Amat Baik
Menikmati Manusia
Menikmati Alam
Menikmati Hasil Budaya Manusia
Menikmati Setiap Hari
6. Menikmati sampai selama-lamanya
Nafsu terpuaskan?
Merindukan Kekekalan
7. Soli Deo Gloria
Menikmati karena Memuliakan Allah
Menikmati di dalam Kehendak Allah
For Better or Worse!
Apa yang menjadi tujuan paling akhir dari hidup manusia?
Daftar Pustaka
Labels: Daftar Isi, Mari Menikmati
Sunday, July 1, 2007
Credits and Copyright
diterbitkan oleh Penerbit Ro`iel
Template Sampul oleh Kris Williams (EBookCovers.us)
Desain dan tata letak oleh Baron Arthur
© 2007 by Baron Arthur
Kalau Anda tidak punya uang silahkan dikopi,
tidak ada undang-undang yang melarangnya.
Tapi, kalau Anda punya uang, mendingan beli.
Yang gratisan biasanya kurang dihargai.
Kalau membayar harga, biasanya dampaknya besar.
Semua kutipan ayat Alkitab berasal dari
Alkitab TB LAI 1997 © Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 1997.
Perpustakaan Ro`iel kalau dikatalog:
Arthur, Baron, 1972-
Mari Menikmati!: Pencarian Kenikmatan
1. Allah, Wawasan Kristen
Labels: credits, Mari Menikmati
Soli Deo Gloria
Sampai di bagian terakhir dari tulisan ini, sebagian orang mungkin masih berpikir bahwa mengejar kenikmatan itu bermotivasi dan bergantung dari diri sendiri yang mempunyai cara sendiri untuk menikmati hidup. Maka kita perlu melihat motivasi di dalam menikmati. Apa yang seharusnya menjadi dasar dan motivasi di dalam menikmati? Begitu juga dengan transformasi yang seharusnya terjadi di dalam hidup orang percaya agar bisa menikmati di dalam kelimpahan anugerah Allah.
Menikmati karena Memuliakan Allah
Ketika membicarakan tentang bagaimana Allah menikmati maka kita sudah melihat bahwa Allah menikmati kemuliaanNya. Maka seharusnya motivasi kitapun ketika menikmati segala kenikmatan, termasuk kenikmatan yang sementara adalah kemuliaan Allah. Ketika kita mengejar segala kenikmatan sesungguhnya motivasinya adalah kemuliaan Allah. Selama kenikmatan yang kita kejar hanya untuk keinginan kita apalagi hanya untuk pemuasan nafsu yang berdosa, beribadahpun sesungguhnya sedang berbuat dosa.
Sama seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Kor 10:31, makan, minum dan melakukan segala sesuatu ia lakukan untuk kemuliaan Allah. Maka ketika Paulus menikmati makanan, minuman dan segala hal yang ia lakukan, motivasinya adalah kemuliaan Allah. Jadi motivasi tertinggi dari menikmati adalah Soli Deo Gloria.
Menikmati di dalam Kehendak Allah
1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:1-2
Untuk memuliakan Allah kita perlu mengerti kehendak Allah. Menikmati yang bukan hanya sembarangan melakukan sesuai suasana hati, tetapi menikmati yang sesuai dengan apa yang sudah Allah sediakan bagi kita. Karena kita ingin menikmati semua kelimpahan yang disediakan Allah, maka seharusnya kita juga mengerti apa yang menjadi keinginan Allah ketika memberikan dan bagaimana cara yang Ia inginkan bagi kita untuk menikmatinya. Itu sebabnya kita perlu menikmati di dalam kehendak Allah.
Ada tiga nasehat yang diberikan Rasul Paulus untuk mengerti kehendak Allah.
Yang pertama, mempersembahkan tubuhmu (hidupmu). Persembahan yang hanya sekali sebagai korban yang berkenan kepada Allah. Untuk menikmati di dalam kehendak Allah, maka kita harus memulai dengan mempersembahkan hidup kita sebagai korban. Berbeda dengan para pengejar kenikmatan yang berpusat pada dirinya sendiri, maka orang percaya justru menikmati ketika melihat kepada kehendak Allah yang biasanya bertentangan dengan keinginan diri sendiri yang berdosa. Bagaimana bisa menikmati kalau bertentangan dengan kehendak sendiri? Awalnya memang bertentangan dengan kehendak sendiri yang berdosa, tetapi ketika mempersembahkan tubuh sebagai korban, justru tidak lagi bertentangan dengan kehendak sendiri, karena sudah ada perubahan dari kehendak sendiri yang ingin melakukan kehendak Allah.
Yang kedua, Paulus menasehatkan agar tidak mencocokan diri dengan pola zaman ini. Lho bagaimana bisa menikmati kalau tidak mencocokan diri dengan zaman ini? Bukannya zaman ini menyediakan segala kenikmatan? Zaman ini memang menyediakan kenikmatan, tetapi yang disediakan oleh zaman ini adalah kenikmatan yang berdosa. Maka ketika hanya mengikuti pola zaman ini, sama saja dengan mengikuti kenikmatan yang berdosa. Lho, terus harus bagaimana? Apakah harus meninggalkan seluruh kenikmatan yang ada di dunia ini? Tentu saja tidak. Tetapi harus mengikuti nasehat yang ketiga.
Yang ketiga, orang percaya harus ditransformasikan melalui renovasi pemikiran. Orang percaya bisa tetap menikmati segala hal di dunia ini, tetapi ada yang harus diubahkan oleh Allah sendiri, yaitu cara pandang di dalam menikmati. Allah bekerja melalui firmanNya mengubah orang percaya bisa melihar bagaimana menikmati di dalam kehendak Allah, apa yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Jadi, jikalau kita bisa menikmati segala kelimpahan sebenarnya adalah anugerah Allah yang menyediakan semuanya, mengubah diri kita untuk memiliki cara pandang yang benar untuk menikmati semuanya, dan tentu juga ada tanggung jawab dari manusia yang sudah mendapatkan anugerah Allah untuk mempersembahkan diri sebagai korban dan meninggalkan kesalahan dari pola zaman ini.
For Better or Worse!
Jikalau kita betul-betul mengasihi, memuliakan dan menikmati Allah, apakah besar atau kecilnya pemberianNya akan mengubah kasih dan kenikmatan itu? Sebagian orang merasa bisa menikmati kalau ada banyak berkat yang diberikan kepadanya. Dan lama-kelamaan yang lebih dikasihi dan dinikmati adalah kenikmatan dan berkat itu sendiri melebihi dari sumber berkat dan kenikmatan itu sendiri.
Yang lebih parah lagi, besar atau sedikitnya berkat dan kenikmatan itu ditentukan oleh cara manusia yang melihat sesuai dengan keinginannya sendiri. Padahal sesungguhnya kalau melihat dari cara pandang Allah semua pemberian Allah adalah kelimpahan. Allah memberikan segala kelimpahan itu tentu saja bukan dengan tujuan agar manusia lebih mencintai semua pemberianNya melebihi diriNya sendiri.
Biarlah kita bisa melihat segala kelimpahan kenikmatan dari Allah pada setiap saat keadaan, saat mata jasmani kita melihat itu hanya sedikit atau kita melihatnya banyak, biarlah mata rohani kita bisa tetap melihatnya dalam segala kelimpahan.
Apa yang menjadi tujuan paling akhir dari hidup manusia?
Bagian terakhir, seharusnya kita terus bertanya apa yang menjadi tujuan paling akhir dari hidup ini? Mengutip dari Katekismus Singkat Westminster, jawabannya adalah memuliakan Allah dan menikmatiNya sampai selama-lamanya.
Soli Deo Gloria.
Labels: Bab 7, Mari Menikmati
Menikmati sampai selama-lamanya
Salah satu pemikiran yang memotivasi hidup manusia adalah kenikmatan di dalam kekekalan. Motivasi ini bisa menggerakkan orang untuk mengorbankan hidupnya sebagai pembom bunuh diri, menahan diri untuk tidak menikmati setiap kenikmatan sementara yang berdosa ataupun menjadi visi yang mempengaruhi bagaimana menikmati kenikmatan yang sementara ini.
Nafsu terpuaskan?
Ada sebagian kepercayaan yang beranggapan bahwa sorga adalah tempat untuk memuaskan segala hawa nafsu. Misalnya seorang pria akan mendapatkan banyak wanita cantik-cantik untuk pemuasan hawa nafsunya. Ataupun sorga adalah tempat untuk tidak bekerja lagi sampai selama-lamanya, di sana liburan terus dan bebas melakukan semua yang diinginkan hati. Apakah betul sorga adalah tempat pemuasan hawa nafsu kenikmatan?
Bertentangan dengan pemikiran ini, adalah pemikiran dari para atheist yang merasa tidak perlu masuk sorga, karena di sorga mereka tidak bisa bebas untuk menikmati narkotika, pelacur dan sebagainya. Maka mereka memilih lebih baik ke neraka yang mereka pikir akan menyediakan segala sesuatu yang memuaskan nafsu mereka. Apakah sorga tidak lebih memuaskan dibandingkan dengan neraka dan bumi yang berdosa ini?
Sebenarnya untuk menjawab kedua pemikiran ini, kita seharusnya kembali ke dalam hal yang paling mendasar yang bisa memuaskan hidup manusia sampai selama-lamanya. Jika manusia di dalam hidup ini hanya melihat pemuasan nafsunya yang bisa membuat hidupnya bahagia, maka hal itulah yang dia akan inginkan sampai selama-lamanya. Selama hidupnya hanya bisa melihat sex, wanita cantik, uang, liburan tanpa kerja, narkoba, penghiburan dan segala kenikmatan sementara, maka semua itulah yang diinginkan tetap bertahan sampai selama-lamanya.
Sayang sekali, manusia lupa bahwa ada yang sementara dan ada yang kekal. Yang sementara tidak mendapatkan tempat di dalam kekekalan. Di sorga tidak ada kawin dan mengawinkan. Hubungan sex dan perkawinan dibutuhkan di dunia ini untuk manusia bertambah banyak memenuhi bumi dan manusia belajar menikmati di dalam relasi yang tidak terpisahkan. Tetapi di dalam kekekalan nanti relasi antara sesama manusia akan lebih nikmat daripada hubungan sex antara pria dan wanita, karena manusia tanpa dosa dan sudah berada di dalam satu persekutuan di dalam Allah Tritunggal.
Manusia akan terus bekerja untuk memuji dan menyembah Allah sampai selama-lamanya dan memerintah langit dan bumi yang baru sampai selama-lamanya. Tidak ada dosa, tidak ada motivasi yang salah, manusia tidak bekerja untuk membeli kenikmatan. Karena kenikmatan sudah disediakan semuanya dan bahkan kerjapun suatu kenikmatan.
Manusia tidak perlu memikirkan kepuasan hawa nafsunya yang berdosa, karena tidak ada dosa di sana dan hidup manusia adalah hidup yang bahagia dan memuaskan, karena Allah sendiri mengisi kekekalan manusia yang membuat manusia menikmati sampai selama-lamanya.
Merindukan Kekekalan
John Calvin dalam Inst.III.9, mengatakan bahwa orang-orang percaya seharusnya merindukan hidup yang kekal. Karena di dalam hidup yang kekal kita bisa bertemu Allah yang kita rindukan. Di dalam kekekalan kita bisa berhadapan dengan semua kebaikan tertinggi dan termurni tanpa dosa. Jika membandingkan hidup yang sementara ini dengan kekekalan maka hidup yang sementara ini menjadi tidak berarti sama sekali. Meskipun demikian, hidup yang sementara ini berguna untuk hidup yang kekal. Itu sebabnya kita perlu memikirkan kekekalan, tetapi juga mempergunakan kesementaraan ini di dalam hubungannya dengan kekekalan. C.S. Lewis mengatakan:
Jika Anda membaca sejarah, Anda akan menemukan bahwa orang Kristen yang berbuat terbaik bagi dunia masa kini adalah mereka yang banyak berpikir tentang dunia yang akan datang… Ketika orang Kristen berhenti memikirkan dunia yang akan datang, mereka menjadi kehilangan pengaruh positif mereka dalam dunia ini.
Rasul Paulus dalam Fil 1:21-24 mengatakan bahwa mati adalah keuntungan. Mati jauh lebih baik, tetapi hidup jauh lebih perlu.
Maka bagaimana seharusnya kita mempergunakan hidup yang perlu untuk sampai kepada kekekalan yang jauh lebih baik? Bagaimana seharusnya kita mempergunakan semua kenikmatan sementara untuk persiapak kepada kehidupan kekal untuk menikmati sampai selama-lamanya?
Sebagian orang yang menikmati hidup yang sementara ini, mengerti bahwa semuanya pemberian Allah tapi mungkin tidak mempergunakannya sebaik mungkin untuk pelajaran menikmati sampai selama-lamanya. Banyak orang tidak menyadari tentang pelajaran menikmati sangat berguna sampai selama-lamanya. Kenikmatan sementara memang fungsinya sementara, tetapi apakah gunanya yang sementara jika tidak ada hubungannya dengan kekekalan? Sama seperti dunia ini hanya sementara, tapi kalau tidak ada hubungannya dengan kekekalan apa gunanya yang sementara ini? Hanya sekedar pernah hadir kemudian suatu saat nanti hilang dan tidak ada gunanya sama sekali, kecuali di dalam waktu yang sementara itu?
Yesus Kristus, Allah yang dari kekekalan masuk ke dalam kesementaraan menjadi manusia, membuat orang yang percaya kepadaNya bisa mengkaitkan antara hidup yang sementara ini dengan hidup yang kekal. Hidup kita ini masih berada di dalam kesementaraan, tapi kita sudah memiliki hidup yang kekal. Maka seharusnya kenikmatan yang sementara di dalam hidup yang sementara inipun berhubungan dengan kenikmatan yang kekal. Pertanyaannya, apa/siapa yang bisa membuat sementara berhubungan dengan kekekalan? Jawabannya, hanya Yesus Kristus, Allah menjadi manusia, yang dari kekekalan masuk dalam kesementaraan. Ia yang membuat manusia bisa menikmati kekekalan di dalam kesementaraan ini. Artinya, jikalau manusia menikmati semua kenikmatan sementara di luar Kristus, maka semuanya hanya sementara. Tapi, jika kita menikmati semua kelimpahan yang berasal dari Allah di dalam Yesus Kristus, maka kita sedang menikmati kenikmatan yang kekal.
Kita bisa mengerti dan melihat contohnya di dalam Perjamuan Kudus. Makan roti dan minum anggur, tetapi ternyata bisa dipakai untuk mengenang anugerah Allah di dalam kematian Tuhan Yesus Kristus di atas salib. Sederhana sekali, hanya dengan makan minum bisa menikmati Allah sampai selama-lamanya.
Seharusnya kita bukan hanya memikirkan semua kenikmatan yang sementara ini demi untuk kesementaraan saja. Karena yang sementara ini tidak semuanya hanya berguna demi kesementaraan meskipun memang waktu terjadinya hanya sementara. Banyak hal di dalam kehidupan manusia, kejadian-kejadian yang hanya terjadi sesaat dan di dalam waktu yang singkat ternyata bisa merubah dan mempengaruhi hidup sampai mati, bahkan bisa mempengaruhi hidup orang lain. Mengapa kenikmatan-kenikmatan yang sementara juga tidak bisa membuat hidup kita belajar menikmati sampai selama-lamanya?!
Biarlah kita bisa melihat segala kelimpahan berkat-berkat Allah di dalam kenikmatan yang sementara dan kita bisa belajar menikmati semuanya di dalam Yesus Kristus, yang membuat kita belajar menikmati sampai selama-lamanya.
Labels: Bab 6, Mari Menikmati
Sungguh Amat Baik
Di bagian terakhir dari bab sebelumnya kita sudah melihat bagaimana seharusnya menikmati Allah melalui menikmati berkat-berkatNya. Sebelum kita melihat bagaimana seharusnya kita menikmati, kita perlu melihat dulu sebuah bagian firman Tuhan yang sering disalah-mengertikan, yaitu 1 Yoh 2:15-17.
15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Bagian firman Tuhan ini sering dianggap sebagai perintah bagi orang-orang percaya untuk menghindari dunia dan tidak menikmati segala kenikmatan sementara. Karena kenikmatan sementara hanya berisi segala keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup dan semuanya berasal dari dunia.
Masalahnya, yang disorot oleh Yohanes yaitu keinginanan yang dilakukan di dalam keberdosaan. Bagaimana dengan keinginan dan kenikmatan yang dikuduskan? Bukankah semua kenikmatan sementara itupun bisa memuliakan Allah? Maka kita harus membedakan antara mengasihi dunia dengan mempergunakan dan menikmati dunia.
Yang dimaksud dengan mengasihi dunia adalah keterikatan dengan dunia, begitu menginginkan dunia ini, bahkan dunia ini yang menjadi pusat dan tujuan di dalam hidup ini, sehingga ketika harus kehilangan dunia ini, sepertinya hidup ini tidak berarti lagi. Dunia yang berdosa menjadi Tuan sedangkan manusia menjadi budaknya. Itu sebabnya Yohanes mengatakan tidak ada kasih terhadap Bapa.
Menikmati dunia bisa sama dengan mengasihi dunia, jikalau dilakukan di dalam keberdosaan dan berpusat pada manusia, anthroposentris. Tetapi, menikmati dunia bisa menjadi sesuatu yang bertentangan dengan mengasihi dunia. Menikmati dunia adalah suatu anugerah Allah bagi umatNya untuk menikmati segala berkat-berkatNya di dalam segala kebebasan dan bukan di dalam keterikatan. Pemikiran paradoks John Calvin dalam Inst III.6-10, tentang Christian Life seharusnya menjelaskan kepada kita bagaimana hubungan antara dunia (beserta berkat2 dan kenikmatannya) dengan diri orang percaya. Bagi Calvin, orang percaya seharusnya menikmati semua berkat-berkat Allah, karena semuanya adalah pemberian Allah, maka Ia menginginkan kita menikmatinya di dalam ucapan syukur. Tetapi, jangan sampai terikat dengan semuanya itu, sehingga ketika kehilangan semuanya itu seolah-olah hidup ini tidak bisa lagi bahagia.
Jadi, kita bisa menikmati dunia dengan melihatnya adalah berkat-berkat dari Allah dan dengan tujuan untuk bisa memuliakan Allah karena Allahpun menginginkan kita untuk menikmati semuanya.
Menikmati Manusia
Manusia adalah ciptaan Allah tertinggi di dunia ini. Itu sebabnya ciptaan Allah yang tertinggi kenikmatannya adalah manusia. Allah mengatakan tidak baik manusia itu seorang diri. Karena jikalau manusia hanya sendiri maka manusia tidak bisa menikmati sesama manusia. Seringkali orang-orang mengartikannya dengan cinta atau kasih.
Yang paling mendasar dari menikmati sesama manusia adalah menikmati keluarga. Allah memberikan keluarga untuk dinikmati di dalam relasi, baik antara suami isteri maupun antara orang tua anak dan sesama saudara. Keluarga merupakan unit terkecil tetapi memiliki kenikmatan tertinggi. Dari keluarga, kita bisa belajar menikmati di dalam persekutuan dan relasi yang lebih luas, baik itu persahabatan, sampai gereja yang merupakan bagian dari kumpulan orang percaya yang saling menikmati.
Kenikmatan tertinggi di dalam menikmati manusia ada di dalam hubungan sex suami dan isteri. Dua menjadi satu melambangkan persekutuan terintim dan terdalam dari manusia. Kenikmatan yang tertinggi inilah yang dicemari dosa sedemikian dalam, membuat semakin lama semakin sulit dibedakan mana yang kudus dan mana yang hanya sekedar pemuasan nafsu yang berdosa.
Kesalahan dalam menikmati sesama manusia dimulai dari kesalahan di dalam menikmati keindahan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Melihat wanita yang cantik, seharusnya membuat kita menikmati dan bersyukur kepada Allah yang masih memberikan keindahan, kecantikan dan kemuliaan kepada manusia berdosa. Di samping itu, seharusnya lebih menghargai di dalam relasi dan persekutuan yang bisa hadir di dalam persahabatan. Yang terjadi ternyata banyak pria yang menginginkan seorang wanita cantik untuk dimiliki dan dinikmati sendiri, bahkan ada yang hanya menginginkan tubuhnya hanya untuk sekedar dinikmati dan memuaskan nafsunya yang berdosa.
Manusia yang ingin menikmati sesama manusia hanya untuk pelampiasan nafsunya, sesungguhnya sudah melakukan perbuatan dosa yang lain, yaitu: menyia-nyiakan kenikmatan di dalam relasi yang sehat dan menikmati Allah saat kita bersyukur dan memuliakan Allah yang menjadi sumber dari segala keindahan dan kecantikan.
Kesalahan ini tidak hanya dilakukan oleh pria. Wanitapun melakukan kesalahan yang sama. Melihat pria yang tampan dengan segala kepemimpinan dan kewibawaannya, membuat wanita ingin memiliki pria itu.
Baik pria dan wanita juga melakukan kesalahan yang sama ketika iri dan tidak menghargai segala keindahan yang Allah berikan kepada manusia yang lain. Banyak wanita iri dengan kecantikan wanita lain dan berusaha menjadi cantik dan bahkan lebih cantik dari wanita-wanita cantik yang menjadi saingannya.
Begitu juga ketika kita menghina orang lain karena cacat atau kita anggap kurang baik. Padahal di dalam diri orang-orang yang cacat sekalipun ada hal-hal yang masih bisa dinikmati, dan mungkin bisa lebih dalam dan tinggi kualitasnya dibandingkan dengan orang-orang yang kelihatan baik secara fisik. Ada banyak orang cacat di dalam sejarah dunia yang kisahnya membuat kita terharu, bahagia dan bersukacita! Mengenal dan mendengarkan hidup mereka membuat kita bersyukur dan memuliakan Allah yang telah mencipta mereka. Misalnya, Fanny J. Crosby, seorang wanita yang buta sejak kecil tetapi menjadi penulis lagu-lagu hymn terbanyak sepanjang sejarah. Buta, tapi melihat lebih banyak dari orang lain.
Ada terlalu banyak di dalam manusia yang bisa kita nikmati, yang membuat kita bisa memuji Allah, bersyukur, memuliakan dan menikmatiNya karena segala hal yang sudah Ia berikan di dalam diri manusia.
Menikmati Alam
Sepertinya semua orang sudah mengerti bagaimana menikmati alam. Kita bisa melihat Tour and Travels yang terus berkembang dan selalu menguntungkan di saat-saat liburan. Kita juga sering melihat bagaimana tempat-tempat wisata menjadi tempat-tempat yang sangat ramai karena begitu banyak orang ingin menikmati semua keindahan alam. Sepertinya banyak orang yang sudah mengerti bagaimana menikmati alam. Betulkah semua orang mengerti bagaimana mengerti alam?
Kalau diperhatikan lebih jauh, sebenarnya hanya sedikit yang betul-betul bisa menikmati alam di lingkungan/ daerahnya sendiri. Sepertinya rumput tetangga lebih hijau. Orang-orang di satu pulau seringkali lebih menghargai keindahan dari pulau yang lain. Begitu juga dengan satu negara dengan negara yang lain. Orang Indonesia lebih melihat keindahan di Australia, Eropa dan Amerika. Sebaliknya orang Amerika, Australia dan Eropa justru melihat Indonesia dan Asia lebih indah. Mengapa? Apakah agar pariwisata bisa terus berkembang? Ataukah karena sudah puas dengan segala keindahan di daerahnya sendiri? Jangan-jangan justru karena tidak pernah bisa menghargai dan puas akan keindahan alam di tempat asalnya?
Sebaliknya juga kita bisa menemukan orang-orang yang menilai keindahan alam di daerah atau tempatnya justru menghina dan merendahkan tempat-tempat lain. Seolah-olah tempat yang lain kurang baik dan hanya tempatnya yang terbaik.
Kita perlu mengerti keindahan secara obyektif dan subyektif. Keindahan secara subyektif itu bisa berbeda-beda karena berhubungan dengan selera dari seseorang melihat keindahan itu sendiri. Sementara keindahan obyektif diakui oleh setiap orang keindahan yang ada. Ada tempat-tempat yang menunjukkan keindahan yang luar biasa karena belum tersentuh dari tangan-tangan yang ingin merusak dan mengotorinya. Tempat-tempat ini tersebar di seluruh penjuru dunia dengan segala keindahan dan keunikannya.
Kita juga perlu mengerti bahwa ada perbedaan antara daerah tropis, sub-tropis dan daerah dekat kutub. Masing-masing punya keindahan dan keunikan tersendiri. Itu sebabnya orang-orang yang terbiasa di daerah sub tropis akan kagum dengan daerah tropis dan sebaliknya. Nikmatilah musim panas maupun hujan, Summer maupun Winter yang penuh salju.
Oleh sebab itu, kita perlu belajar dua hal di dalam menikmati alam, selain belajar menikmatinya, juga belajar memuliakan dan menikmati Allah ketika menikmati alam.
Yang pertama, menghargai dan menikmati alam di tempat sendiri. Biasanya kalau terus berada di satu tempat, maka ada kecenderungan dari manusia berdosa untuk tidak bisa menghargainya karena menganggapnya biasa dan seringkali membosankan. Sesudah pergi ke tempat lain, barulah seseorang bisa lebih menghargai keindahan di tempatnya sendiri. Maka belajarlah untuk menikmati sekecil dan sesedikit apapun keindahan yang masih bisa kita lihat. Tentu saja perlu juga membayangkan bagaimana keindahan sebelum ada perubahan yang merusak dan apa yang terjadi kalau direhabilitasi. Kita bisa melihat pasir di pantai misalnya. Kalau tidak berwarna putih maka dianggap pasir biasa. Tetapi, ada yang bisa menikmatinya dan bahkan bisa membuat pameran pasir yang dipahat, bahkan bisa menjadi pameran internasional yang dinikmati banyak orang. Bukankah itu hanya pasir biasa?!
Yang kedua, menghargai dan menikmati alam di daerah-daerah yang dikunjungi. Belajar untuk menikmati apakah itu pantai, gunung, kota, ataupun desa. Serusak apapun tempat itu seharusnya masih ada keunikan dan keindahan yang masih bisa dinikmati. Apalagi kalau kita pergi ke tempat-tempat yang indah, mengapa tidak menikmatinya, bersyukur kepada Allah yang menciptanya dan menikmati Allah yang menjadi sumbernya?!
Menikmati Hasil Budaya Manusia
Ada berbagai macam hasil budaya manusia. Yang dimaksud dengan hasil budaya manusia, bukan hanya budaya yang dihubungkan dengan seni, baik itu musik, tarian, lagu, tetapi juga yang berhubungan dengan kerja, penemuan, teknologi, olahraga dan berbagai macam hiburan.
Di negara-negara maju, teknologi, internet dan hiburan dipuja melebihi Allah, sementara di tempat-tempat tertinggal, teknologi dimusuhi karena dianggap seperti dewa yang baru dan asing. Di negara-negara berkembang, kedua hal ini hadir.
Negara-negara maju sekarang makin sadar bahwa teknologi yang dulu dianggap sebagai penyelamat dan sumber kenikmatan manusia, ternyata juga menjadi pembunuh dan yang mengambil kenikmatan manusia. Contohnya: Mobil, AC, dan berbagai alat yang dulu bisa memberikan kenikmatan kepada manusia, ternyata justru menjadi salah satu penyebab efek rumah kaca yang memicu pemanasan global. Sehingga banyak yang ingin kembali kepada alam, back to the nature. Reaktor nuklir yang menghasilkan berbagai keuntungan bagi manusia, ternyata juga menjadi pembunuh raksasa umat manusa. Internet yang dianggap bisa menyampaikan informasi dengan cepat, juga menjadi alat penyebar dosa dengan sangat cepat melebihi kebaikannya. Pesawat yang sangat membantu manusia karena bisa membawa manusia dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat, juga tidak luput dari berbagai kecelakaan.
Televisi, Film, Musik, Game dan Olahraga menjadi industri yang berkembang dengan sangat subur sekaligus menjadi sumber hiburan bagi manusia. Kebutuhan manusia akan hiburan yang begitu besar membuat industri dalam bidang ini terus-menerus berkembang dengan pesat. Banyak anak muda yang ingin mendapatkan kesempatan untuk masuk di dalam industri-industri ini.
Televisi yang dulunya merupakan media untuk menyampaikan informasi berubah menjadi alat untuk menyampaikan informasi yang harus dibayar mahal. Iklan merubah televisi menjadi industri untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Olahraga yang dulunya bertujuan untuk kesehatan, sekarang berubah menjadi tempat untuk mendapatkan kejayaan pribadi, bangsa dan tentu saja ikatan kontrak dari sponsor yang begitu besar. Seratus tahun yang lalu, olahraga hanya sekedar pekerjaan sampingan. Tapi sejak 50 tahun yang lalu, mulai banyak muncul olahragawan professional. Olahraga bukan lagi hanya untuk olahraga, tetapi menjadi bisnis yang menguntungkan. Bahkan orang-orang terkaya dan terkenal di dunia kebanyakan adalah olahragawan. Hal yang sama terjadi juga di dalam perfilman dan kalau di Indonesia, pemain sinetron.
Zaman dulu anak-anak muda berpikir untuk bekerja di pemerintahan atau swasta. Sekarang impiannya menjadi penyanyi, pemain sinetron dan olahragawan. Bidang-bidang ini di anggap bisa memberikan kesuksesan instant, kecuali untuk olahraga.
Melihat semua gejala dan perkembangan dari teknologi, internet, industri televisi, film, olahraga dan hiburan, maka banyak orang yang menganggap bahwa sesungguhnya industri-industri hiburan ini adalah pekerjaan Iblis untuk menggantikan hiburan yang sejati dari Allah. Apalagi kalau dilihat akibat yang dimunculkan ternyata banyak dampak yang negatif. Bagaimana kita bisa memuliakan dan menikmati Allah dengan media yang meberikan banyak sekali dampak yang negatif? Dan bukankah semuanya ini merupakan hasil budaya manusia 100 tahun terakhir ini, sehingga merupakan produk dari manusia yang semakin berdosa!?
Kita perlu mengerti bahwa di dalam dunia yang berdosa ini, semua yang bertujuan untuk kebaikan pada awalnya pasti ada akibat negatifnya karena pencemaran dosa. Teknologi apapun yang baik bisa dipergunakan untuk kejahatan. Tapi itu bukan berarti bahwa manusia kemudian berhenti untuk menemukan dan menikmati hasil penemuannya. Selain itu perlu untuk memikirkan perbaikannya. Karena banyak penemuan manusia itu bersifat sementara, hanya berguna di satu zaman, tapi di zaman berikutnya bisa menjadi alat yang menghancurkan. Di zaman tertentu diperlukan, tetapi zaman berikutnya tidak berguna. Ada banyak alat yang ditemukan bukan untuk dipakai selama-lamanya. Ini yang harus diterima oleh manusia yang berharap semua yang dimilikinya bisa kekal sampai selama-lamanya. Maka kita perlu belajar menikmati yang sekarang sambil memikirkan dampak dan perbaikannya bagi masa depan. Misalnya orang yang memakai mobil, juga memikirkan mobil hybrid dan mungkin berbagai macam jenis transportasi yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Berbagai macam hiburanpun seharusnya bisa kita nikmati sebagai kenikmatan di waktu-waktu luang, tetapi bukan sebagai penghiburan utama yang membuat kita ketagihan dan bergantung kepada semua penghiburan itu. Seolah-olah tanpa televisi, film, musik atau olahraga kita tidak bisa menikmati hidup ini. Nikmati tapi jangan bergantung dan menjadikan semuanya adalah pusat di dalam hidup kita. Kita tetap bisa melihat, belajar dan menikmati banyak hal yang baik untuk memuliakan Allah dan menikmatiNya di dalam dunia yang berdosa ini.
Menikmati Setiap Hari
Melihat berbagai hal di hidup ini seharusnya kita menikmati setiap hari. Terlalu banyak kenikmatan yang sudah disediakan oleh Allah di dalam hidup kita sehari-hari.
Salah satu kegiatan yang bisa terus-menerus mengingatkan kita tentang kenikmatan setiap hari yang tersedia bagi kita adalah makan. Kegiatan makan adalah salah satu kegiatan yang memberikan begitu banyak kenikmatan, meskipun sebagian orang tidak lagi melihatnya sebagai kenikmatan.
Saya sudah menjelaskan di bab-bab sebelumnya bahwa dari Kej 2:9, kita bisa melihat bahwa Allah menyediakan makanan bukan hanya untuk kebutuhan bagi hidup manusia tetapi juga untuk kenikmatan manusia. Begitu juga dengan 1 Kor 10:31, menjelaskan bahwa makan dan minumpun bisa dipakai untuk memuliakan Allah. Lebih menarik lagi, permintaan pertama di dalam Doa Bapa Kami, bukanlah kebutuhan akan pengampunan dosa, melainkan roti harian (makanan), Mat 6:11. Kita juga bisa melihat bahwa makan dan minum dipakai oleh Allah untuk mengingat cinta kasihNya kepada kita, yaitu di dalam Perjamuan Kudus. Maka seharusnya, waktu makan setiap hari mengingatkan kita akan kenikmatan setiap hari.
Setiap kali kita berdoa makan seharusnya bukan karena formalitas atau kebiasaan. Melainkan kita memulainya dengan penuh ucapan syukur untuk berkat yang Allah sediakan bagi kebutuhan dan kenikmatan kita. Selanjutnya, nikmatilah apapun yang tersedia, sedikit atau banyak sampai kita puas dan memuji Allah. Di samping itu ingatlah Allah ketika kita menikmati segala berkat makanan. Rhea F. Miller di dalam bait ketiga dari lagunya I’d Rather Have Jesus menggambarkan bagaimana seharusnya kita menikmati Allah melalui makan. Kristus lebih manis dari madu yang paling manis!
Selain makan, kerja juga seharusnya mengingatkan kita untuk kenikmatan yang sudah Allah sediakan dan bisa untuk menikmati Allah setiap hari. Kerja adalah pemberian Allah kepada manusia sejak Penciptaan. Ada kepuasan dan sukacita ketika manusia bekerja. Meskipun ketika manusia jatuh dalam dosa, ada perubahan yang membuat kerja menjadi suatu beban yang berat, tapi seharusnya tidak menghilangkan dan membuang segala kenikmatan di dalam bekerja.
Memang kenikmatan dalam kerja saat ini sudah digantikan dengan hasil yang didapat, yaitu kenaikan jabatan ataupun materi. Tetapi seharusnya kenikmatan di dalam bekerja dikembalikan lagi kepada fungsi yang sebenarnya, untuk mengusahakan dan memelihara semua ciptaan Allah, sekaligus manusia bisa mengembangkan talentanya serta menjadi wakil Allah di dunia ini. Jikalau hal ini yang dilakukan oleh manusia setiap hari pada saat bekerja, maka kerja menjadi suatu kenikmatan yang bisa dipakai untuk memuliakan dan menikmati Allah.
Labels: Bab 5, Mari Menikmati
Selain Kau tiada yang lain
Menikmati Allah adalah salah satu dari tujuan paling akhir dari hidup manusia. Sayang sekali banyak orang tidak mengerti bagaimana menikmati Allah. Sehingga orang-orang yang tidak mengerti telah kehilangan begitu banyak kesempatan menikmati kenikmatan tertinggi di dalam hidup ini. Banyak orang sudah merasa puas saat menggantikan Allah dengan kenikmatan murahan dan sementara, tetapi akhirnya mengalami kekosongan dan ketidakpuasan yang lebih besar.
Banyak orang yang akan terus-menerus merasakan kekosongan di dalam hidupnya meskipun sudah mencoba segala penghiburan dan kenikmatan sementara dan akan mati di dalam kekosongan hidup, karena tidak pernah menikmati Allah. Kepuasan dan kebahagiaan yang bisa mereka alami hanyalah kepuasan dan kebahagiaan sementara. Padahal Allah sudah menyediakan baik dengan sarana ataupun tanpa sarana untuk menikmatiNya.
Menikmati di dalam Pengenalan akan Allah
‘Tak kenal maka tak sayang’ adalah ungkapan yang biasa kita dengar. Kalau diubah sedikit menjadi ‘tak kenal maka tak nikmat’, akan sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana umat Allah yang tidak bisa menikmati Pencipta, Pemelihara dan Penyempurna umat manusia.
Mengenal diri Allah akan membuat manusia kagum akan keagungan, kemuliaan dan kekudusanNya. Mengenal Allah akan membuat manusia bahagia, bersukacita dan puas. Karena manusia yang mengenal Allah bisa melihat dengan iman seberapa dahsyat, agung dan berkuasanya Allah yang mencipta dunia ini, bahkan menebus umatNya, memelihara dan menyempurnakan semuanya.
Alkitab berbicara tentang satu keberadaan Allah yang terdiri dari tiga pribadi, Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Pengenalan akan ketiga pribadi Allah ini seharusnya membuat kita masuk dalam kenikamtan persekutuan dengan ketiga pribadi Allah ini. Kenyataannya, banyak orang yang sulit mengerti dan bahkan mengenal satu keberadaan Allah dengan tiga pribadi ini. Berapa besar kenikmatan yang hilang di dalam ketidakmengertian ini?
Allah menyatakan diriNya dalam berbagai macam cara, baik melalui Firman, dalam hati manusia maupun melalui ciptaanNya. Tentu saja penyataan diriNya yang sangat jelas hanya ada di dalam FirmanNya yang berpusat kepada kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Itu sebabnya pemazmur waktu berbicara tentang Firman, pemazmur menggambarkan sebagai kenikmatan yang tiada tara, lebih indah dari emas tua. Ada rasa ketertarikan dan kepuasan yang besar akan firman Tuhan.
Jangan salah berpikir bahwa pemazmur menyatakan kenikmatannya hanya dengan membaca atau mendengarkan firman Tuhan. Kenikmatannya karena ia merenungkan firman, dan ia mengalami bagaimana firman mengubah dan mengoreksi hidupnya, bahkan firman Tuhan menjadi pelita dan terang bagi hidupnya. Kenikmatan yang didapatkan karena mengenal Allah melalui firmanNya dan melihat bagaimana kuasa Allah yang besar itu bekerja sesuai dengan keberadaan diriNya.
Membaca dan mendengarkan firman Tuhan akan membuat umatNya mengenal keberadaan Allah, beriman, bersyukur, memuliakan dan menikmatiNya. Kita bisa melihat contohnya di dalam Maz 139. Raja Daud menunjukkan pengenalannya akan Allah sebagai yang Maha Tahu (omniscience, ay.1-6); Maha Hadir (omnipresence, ay.7-12); Maha Kuasa (omnipotence, ay. 13-19). Ada kekaguman akan keajaiban pengetahuan dan kuasa Allah, ada sukacita, kegembiraan dan ucapan syukur karena Daud mengenal siapa Allahnya yang begitu dahsyat. Daud bukan hanya beriman, ia juga menikmati Allah yang dikenalnya.
Kita juga bisa melihatnya di dalam Maz 27. Pengenalan Daud terhadap Tuhan yang adalah Terang dan keselamatan, membuat dalam keadaan dikepung musuh Daud tidak merasa takut. Bahkan pada ayat 4, Daud berkata:
Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.
Pengenalan akan Allah membuat Daud menikmatinya dan ingin terus dekat dengan Allah.
Bahkan didalam Mazmur 34:8, Daud mengatakan: Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Seolah-olah Tuhan seperti makanan yang bisa dinikmati.
Dalam Perjanjian Baru kita bisa melihat contoh dari Stefanus yang merupakan martyr pertama di dalam Kis 7:54-60. Stefanus yang dirajam dengan batu seharusnya begitu menderita dan berada di dalam kesakitan yang luar biasa. Tetapi di ay. 60, justru Stefanus berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Ia tidak memikirkan rasa sakit dan penderitaannya, bahkan ia meminta pengampunan bagi mereka yang sedang merajamnya dengan batu sampai mati. Mengapa? Karena di ay. 55-56, Stefanus melihat kemuliaan Allah dan juga melihat dan mengenal Tuhan Yesus. Akibatnya ia begitu menikmati apa yang dialaminya. Penderitaan sementara yang ia hadapi tidak sebanding dengan kenikmatan yang didapatkan di dalam pengenalan dan kemuliaan Allah.
Pengenalan akan Allah membuat kita bisa menikmati Allah. Kita tidak harus sekolah dan belajar perdebatan-perdebatan teologis yang rumit untuk mengenal Allah. Kita hanya perlu membaca Alkitab, dengan pimpinan Roh Kudus kita akan melihat Allah yang menjadi pusat dari awal sampai akhir dari sejarah dunia ini dan bukan manusia; mengenal dan beriman kepadaNya, kita akan melihat keagungan dan kemuliaanNya dan kita akan menikmatiNya. Kita sudah memiliki segala kelimpahan kenikmatan di dalam Alkitab, kita tinggal membaca dan menikmatinya. Sederhana sekali, bukan!?
Menikmati di dalam Persekutuan dan PenyertaanNya
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:4.
Ayat ini berbicara tentang hidup yang berhadapan dengan lembah bayang-bayang maut dan kejahatan, tetapi justru ayat ini tidak berbicara tentang ketakutan, kegentaran maupun kesedihan. Bukankah seharusnya perasaan sedih, menakutkan karena bahaya yang dihadapilah yang seharusnya memenuhi manusia yang berada di dalam keadaan seperti itu? Justru yang terjadi sebaliknya. Daud mengatakan ia tidak takut bahaya/kejahatan, bahkan bisa merasakan ada sukacita, penghiburan dan tentu saja suatu kenikmatan. Karena kalau kita lihat selanjutnya di ayat ke 5, maka kita akan melihat nuansa kelimpahan dan kenikmatan waktu Tuhan menyediakan hidangan di hadapan lawan. Musuh tetap ada, tapi ada nuansa sukacita di dalam kelimpahan kenikmatan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Apa yang menjadi penyebabnya?
Daud bisa merasakan penghiburan, sukacita, kebahagiaan dan kenikmatan karena penyertaan Tuhan (sebab Engkau besertaku). Penyertaan Tuhan membawa kenikmatan, bukan hanya karena kelimpahan berkat yang disediakan, tetapi juga di dalam kekurangan. Karena kenikmatan tertinggi justru terletak pada sumber kenikmatan itu sendiri, yaitu Tuhan Allah. Daud menikmati keberadaan dari pribadi Allah yang menyertainya.
Kehadiran Tuhan Yesus Kristus dalam hidup orang percaya seharusnya membuat hidup orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus bisa menikmati Allah dalam segala kelimpahanNya. Kita bisa menikmati Allah, karena Tuhan Yesus terus-menerus menyertai kita, bahkan tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Maka orang-orang yang tidak mengenal Kristus tidak akan pernah merasakan penyertaan dan kelimpahan kenikmatan seperti yang dialami oleh orang-orang percaya. Hal ini yang membuat orang-orang percaya di dalam segala keadaanpun tetap bisa menikmati Allah dengan segala sukacita.
Banyak orang yang bertanya, “Mana mungkin bisa menikmati di dalam keadaan kekurangan apalagi kalau kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi atau semua harta kita?” Alkitab menunjukkan bahwa mungkin untuk tetap bisa bersukacita dan menikmati, bahkan dalam keadaan kehilangan segala sesuatu.
Yang pertama, kita bisa melihatnya di dalam Habakuk 3:17-18.
17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, 18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
Dari ay. 17 kita bisa melihat bahwa ada dua hal yang terjadi di dalam hidup Habakuk, tidak mendapatkan hasil yang diharapkan dan apa yang dimilikinya habis. Tetapi respon dari Habakuk justru tetap bersorak-sorak di dalam Tuhan dan beria-ria. Di dalam bahasa aslinya menggambarkan sukacita. Sukacita ini bukan karena penderitaan yang dialaminya, tetapi Habakuk mengerti bahwa kenikmatan dan sukacita terbesar bukan pada berkat-berkat Tuhan yang bisa hilang, tetapi sumber berkat dan kenikmatan yaitu pribadi Tuhan sendiri. Itu sebabnya Habakuk bisa tetap bersukacita karena ia menikmati Tuhan.
Yang kedua, kita bisa melihatnya di dalam Fil 1:21.
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Mati bukanlah pilihan yang mengenakkan jika hidup ini penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan. Mana ada yang mau mati? Banyak orang yang sudah sekarat masih tetap ingin hidup. Kecuali kalau hidupnya terlalu sulit, tidak ada harapan, merasa hidup tidak berarti maka ingin mati. Tapi, Rasul Paulus membicarakan keuntungan dari kematian bukan karena hidup yang tanpa harapan, justru karena kematian memberikan harapan yang lebih besar. Bahkan di ay. 23, Paulus mengatakan bahwa mati jauh lebih baik! Bukankah mati harus meninggalkan semuanya? Di mana kebaikan dan keuntungannya? Karena bagi Paulus, mati membuatnya bisa bertemu dengan Kristus dan menikmatiNya dengan lebih lagi. Jadi, kehilangan semuanya tidak menghalangi kita untuk tetap menikmati Allah.
Menikmati Berkat-berkatNya
Apakah kalau kita sudah menikmati Allah di dalam segala kelimpahanNya tidak menginginkan lagi dan tidak memerlukan berkat-berkatNya? Ternyata tidak! Justru lebih menghargai segala berkat-berkatNya sekecil dan sesedikit apapun dan bahkan bisa menikmati semuanya. Berkat-berkat itu tidak dinikmati terlepas dari sumbernya, tetapi di dalam sumber berkat itu sendiri.
Mungkin terdengar biasa kalau kita menikmati berkat-berkat Allah. Tapi, sesungguhnya tidak biasa orang yang menikmati berkat-berkat Allah juga menikmati Allah! Karena kebanyakan orang hanya menikmati berkat-berkat Allah tanpa menghubungkannya dengan sang sumber berkat yang seharusnya lebih nikmat.
Rasul Paulus dalam 1 Kor 10:31 mengatakan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Artinya, waktu menikmati segala berkat-berkat dari Allah seharusnya juga bisa memuliakan Allah dan tentu saja menikmatiNya.
Kita seharusnya belajar menikmati Allah di dalam segala berkat-berkatNya. Baik di dalam relasi dengan sesama manusia, menikmati dunia ini dan segala hal yang terjadi di dalam hidup ini, seharusnya kita belajar menikmati Allah. Karena kita nanti harus menikmati Allah sampai selama-lamanya.
Di bab selanjutnya kita akan melihat bagaimana seharusnya kita menikmati semua kenikmatan yang sementara.
Labels: Bab 4, Mari Menikmati
Di mana saya ketika Allah menikmati?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang aneh karena mungkin sangat sedikit orang yang pernah mempertanyakan pertanyaan ini. Di mana saya ketika Allah menikmati? Meskipun demikian, pertanyaan ini membuat manusia berpikir tentang posisi Allah yang seharusnya dan bahwa manusia hanyalah ciptaan dan bukan pusat dari seluruh kehidupan ini. Itu sebabnya dalam segala keadaan seharusnya kita mempertanyakan hal ini.
Dalam hidup ini manusia biasanya hanya ingin melihat segala hal yang baik terjadi dalam hidupnya. Manusia biasanya menganggap dirinya tidak layak mengalami segala kesulitan, masalah, penyakit, bahaya, bencana alam dan segala hal yang negatif. Manusia biasanya menganggap dirinya bisa mendapatkan segala yang baik dalam hidupnya. Manusia jarang memikirkan bagaimana keinginan dan perasaan Allah dalam segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Apakah Allah menikmati di dalam segala hal yang terjadi? Apakah Allah tidak berhak melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanNya dan kenikmatanNya? Bukankah Ia yang merencanakan, mencipta, memelihara dan menyempurnakan semuanya untuk diriNya sendiri?!
Allah adalah Pribadi yang paling Menikmati
Berbagai pandangan terhadap Allah bisa kita lihat di dalam berbagai macam agama dan kepercayaan. Allah bisa digambarkan dengan berbagai macam karakter yang menonjolkan kepada satu sisi. Kalau bukan Allah yang pengasih dan pemurah, maka Allah adalah Allah yang kejam, pemarah, gampang tersinggung, sering menyatakan murkaNya dan akan tenang kalau manusia memberikan persembahan atau korban. Hampir tidak ada yang menggambarkan Allah sebagai Allah yang menikmati, kecuali di dalam karakter dewa-dewi Yunani yang dianggap bersenang-senang dengan kenikmatan (sementara).
Kalau menyelidiki Alkitab, kita akan menemukan bahwa dalam beberapa bagian menggambarkan bahwa Allah adalah Allah yang menikmati. (Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dinikmati-Nya, Maz 115:3). Jarang ada orang yang memperhatikan kenikmatan Allah, karena manusia biasanya hanya memperhatikan kenikmatan dirinya sendiri dan hanya mempergunakan Allah untuk kenikmatan sendiri. Seharusnya kita melihat terlebih dahulu tentang kenikmatan Allah, baru bertanya tentang kenikmatan kita sebagai ciptaan.
Jika Allah bukan pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini akan betul-betul terasa hambar dan tanpa kenikmatan sama sekali. Hidup menjadi seperti robot yang tanpa perasaan dan tidak mengerti apa itu kepuasan. Semuanya biasa dan tidak berarti. Tetapi, justru karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini menjadi hidup yang penuh kenikmatan. Allah menyatakan kemuliaanNya, menikmatiNya dan bahkan membuat dunia ini penuh dengan kelimpahan kenikmatan, karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati.
Sebelum dunia diciptakan Allah begitu menikmati keberadaanNya. Karena Allah memiliki tiga pribadi yang berada di dalam satu kesatuan keberadaan. Kalau Allah hanya satu pribadi, maka tidak ada persekutuan dan tidak ada kenikmatan. Ia baru bisa menikmati kalau ada ciptaan. Tapi, kalau banyak pribadi dan banyak keberadaan Allah akan membuat peperangan, kekacauan dan kebencian. Karena Allah adalah Tritunggal maka Allah menikmati tanpa membutuhkan ciptaan, dan kenikmatanNya adalah kenikmatan sempurna di dalam satu kesatuan.
John Piper di dalam bukunya Desiring God, mengubah pertanyaan pertama dan jawaban dari Katekismus Singkat Westminster. Apa yang menjadi tujuan paling akhir dari Allah (seharusnya manusia)? Jawabannya, tujuan paling akhir dari Allah adalah memuliakan diriNya dan menikmati kemuliaanNya.
Allah merencanakan, mencipta, memelihara dan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya, serta menyempurnakan ciptaanNya bagi kemuliaan dan kenikmatanNya. Hal ini yang sulit dimengerti dan jarang ada orang yang mau mengerti. Tanpa menciptakan segala sesuatu (termasuk manusia), kemuliaan Allah sempurna dan Allah menikmati semuanya. Penciptaan sampai Penyempurnaan tidak membuat kemuliaan dan kenikmatan Allah berubah atau bertambah. Artinya, kalau Allah tetap menciptakan dunia dan segala isinya, menebusnya setelah jatuh dalam dosa, kemudian menguduskan, memelihara dan menyempurnakannya sampai pada akhirnya, untuk menunjukkan kepada ciptaanNya (khususnya manusia), betapa besar kemuliaan Allah dan bagaimana Allah menikmati semuanya. Tentu saja untuk mengajar manusia belajar menikmatinya juga.
Jadi kenikmatan Allah tidak bergantung dan berdasarkan kepada ciptaanNya begitu juga dengan manusia. Kenikmatan Allah tidak bergantung kepada seberapa besar manusia berespon. Allah bebas memuliakan diriNya dan menikmati semua kemuliaanNya. Termasuk dalam berbagai-bagai bencana alam dan musibah, Allah-pun bisa memuliakan diriNya dan Ia menikmatiNya. Mungkin sebagian orang bertanya, “Mengapa Allah menikmati di tengah penderitaan manusia?” Allah bukan menikmati penderitaan manusia, tetapi Ia menikmati ketika rencana-rencanaNya dilaksanakan, meskipun terlihat di mata manusia yang tidak bisa melihat big picture-nya sebagai musibah. Sebenarnya Allah mengijinkan/membiarkan semua bencana itu terjadi karena bisa menggenapi dan melaksanakan rencanaNya sampai pada akhirnya.
Banyak orang yang hanya bisa mengeluh, marah dan kecewa kepada Allah di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bencana. Tetapi ketika melihat dalam jangka waktu berikutnya hal-hal yang terjadi akan membuat orang-orang yang percaya kepada Allah akan bersykur kepadaNya atas semua bencana dan kesulitan yang pernah dialami dan dilaluinya. Manusia marah dan kecewa karena hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak bisa melihat segala sesuatu sampai pada akhirnya.
Padahal sebenarnya segala bencana dan permasalahan yang terjadi dalam hidup manusia masih terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang sudah kita perbuat. Kalau dilihat sebagai penghukuman atas dosa-dosa kita, harusnya lebih banyak lagi musibah, bencana dan permasalahan yang harus dialami oleh manusia.
Ketika Allah menikmati semua yang dilakukan untuk kemuliaanNya, manusia tidak berhak untuk mengganggu dan memprotesnya. Karena semuanya adalah hak Allah untuk melakukan sebagai Pencipta. Sekalipun manusia menjadi korban, manusia tetap tidak berhak untuk memprotes Allah. Manusia biasanya tidak fair. Ketika manusia mengejar kenikmatan sementara dan tidak menghiraukan Allah dan bahkan melawan Allah, seringkali Allah membiarkannya dan tidak mengganggu, bahkan menyediakan segala kenikmatan yang dibutuhkan! Tetapi, mengapa kita memprotes kehendak Allah yang menikmati semua perbuatanNya sekalipun bertentangan dengan kehendak manusia?! Bukankah Allah berhak melakukan semuanya tanpa gangguan sedikitpun dari manusia yang merasa terganggu?!
Sebagian orang mengatakan, karena apa yang dilakukan Allah merugikan diri mereka. Bukankah yang kita lakukan sangat-sangat merugikan Allah dan sesama manusia? Kenapa kita bisa melakukan apa yang merugikan Allah dan sesama manusia, tetapi Allah tidak bisa melakukan apa yang dinikmatiNya, yang kelihatan sepertinya merugikan, tetapi sebenarnya untuk menggenapkan rencanaNya yang baik dan sempurna?
Meskipun kenikmatan Allah tidak bergantung sedikitpun kepada ciptaanNya, tetapi ketika ciptaanNya memuliakan dan menikmatiNya, maka Allah menikmatinya. Apakah hal ini akan menambah kemuliaan dan kenikmatan Allah? Jawabannya, tidak. Kalau begitu, untuk apa semuanya ini? Untuk manusia belajar tentang kemuliaan dan kenikmatan Allah serta bagaimana memuliakan dan menikmati Allah. Manusia mempunyai tanggung jawab sebagai ciptaan untuk semakin membesarkan Allah dan kemuliaanNya, melihat bagaimana Allah menikmati di dalam menyatakan kemuliaanNya dan manusia belajar menikmati seperti Allah menikmati dan tentu saja menikmati Allah yang merupakan sumber segala sesuatu. Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab yang besar yang seharusnya dipelajari manusia seumur hidupnya. Pembahasan tentang bagaimana menikmati Allah akan kita lihat di dalam bab 4.
Kenikmatan Allah di dalam ciptaanNya yang sementara
Untuk melihat bagian demi bagian karya Allah yang dinikmatiNya, kita akan melihatnya di dalam empat bagian hidup manusia: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan dan Pemeliharaan.
a. Penciptaan
Ketika Allah mencipta bumi dan segala isinya, Allah mengatakan baik untuk semua ciptaanNya. Allah menikmati kemuliaan yang dipancarkan oleh ciptaanNya. Kemuliaan dan keagungan yang ada pada bumi dan segala isinya sebenarnya masih bisa dilihat dan dinikmati sampai saat ini. Melihat keindahan dari tempat-tempat yang dijadikan tempat wisata seharusnya kita bisa melihat keindahan dan kemuliaan yang dicipta oleh Allah bagi kenikmatanNya.
Begitu juga ketika Allah mencipta manusia. Allah begitu menikmati penciptaan manusia. Di mulai dengan pembicaraan untuk menciptakan manusia menurut Gambar Allah, yang membuat Allah bisa berkomunikasi dan berelasi dengan manusia. Bahkan manusia menjadi kesenangan bagiNya. Manusia juga diberikan kemuliaan sebagai Gambar Allah yang sekalipun sudah dicemari oleh dosa masih tetap bisa menunjukkan keindahan dan keagungan yang bisa dinikmati. Sampai saat ini kita tetap bisa menemukan kecantikan dan ketampanan manusia yang bisa dinikmati. Allah menciptakan keindahan dan kemuliaan untuk dinikmatiNya.
Bahkan Allah menyatakan sungguh amat baik, setelah mencipta manusia. Ada kepuasan sesudah mencipta manusia.
Kita bisa melihat bagaimana Allah menikmati ketika menyediakan pendamping yang sepadan bagi Adam dan menikmati ketika menempatkan Adam untuk bekerja bagiNya di Taman Eden.
b. Kejatuhan dalam Dosa
Allah juga menikmati ketika mencari umatNya yang berdosa. Sebagian orang hanya melihat sisi keadilan, penghukuman ataupun murka Allah yang ditunjukkan ketika manusia berdosa. Tetapi kalau diperhatikan dengan lebih detil, maka justru kita juga melihat bagaimana cinta kasih Allah bagi umatNya. Hukuman dan didikan bagi umatNya bukan untuk menghacurkan, melainkan untuk mengangkat umatNya dari segala kesulitan dan keberdosaan. Kita bisa melihat cerita yang terus berulang. Allah memberikan berkat, umatNya berdosa, kemudian dihukum, Allah mencari umatNya yang berdosa, menebus mereka dan kemudian memulihkan mereka. Cerita yang terus berulang sepanjang sejarah manusia. Mungkinkah Allah tidak menikmati di dalam melakukan semua kejadian yang terus berulang ini?
Seharusnya kelihatan membosankan, karena manusia terus mengulangi kesalahan yang sama dan tidak pernah belajar dari sejarah, tetapi Allah terus meladeni dan dengan konsisten mendidik umatNya dari satu zaman ke zaman yang lain. Kenikmatan di dalam memancarkan kemulianNya dan menikmati kemuliaanNya sepanjang zamanlah yang membuat Allah tidak pernah bosan berhadapan dengan keberdosaan manusia.
c. Penebusan
Puncak dari kenikmatan Allah justru ditunjukkan ketika menebus manusia dengan mengorbankan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Mengapa pengorbanan Yesus Kristus membuat Allah menikmati? Bukankah salib menunjukkan murka, keadilan dan penderitaan yang begitu berat!? Di mana kita bisa melihat kenikmatan Allah?
Allah menikmati ketika kemuliaanNya dinyatakan melalui salib. Bukan penderitaan Kristus yang dinikmati, melainkan kemuliaan yang dinyatakan melalui penderitaan dan kematian Kristus. Karena kematian Kristus membuat umatNya dibebaskan dari dosa dan dikembalikan kepada kemuliaan yang bisa memuliakan Allah. Allah menikmati ketika kemuliaanNya terus dinyatakan.
d. Pemeliharaan
Allah menikmati di dalam memelihara dan mencukupkan segala kebutuhan umatNya. Ia menyatakan kebaikan, keagungan dan kemuliaanNya. Allah juga menikmati ketika manusia bergantung kepada Allah di dalam segala kebutuhannya, karena memang Allah adalah sumber dari segala sesuatunya.
Selain itu, Allah juga menikmati ketika mengijinkan terjadinya berbagai macam bencana alam dan musibah. Karena dengan berbagai bencana alam membuat manusia menyadari keterbatasannya dan sadar ada kuasa yang begitu besar yang mengontrol segala sesuatu. Sesungguhnya kuasa dan kemuliaan Allah juga dinyatakan di dalam segala bencana alam. Begitu juga dengan akibatnya, membuat manusia kembali dan bergantung kepada Penciptanya. Allah menikmati semuanya, karena semua musibah dan bencana alam yang diijinkan terjadi hanyalah untuk menggenapkan rencana Allah bagi kemuliaanNya.
Seharusnya ketika kita melihat kenikmatan Allah membuat kitapun menikmati seperti Allah menikmati semuanya. Apakah Allah tidak menginginkan manusia juga untuk ikut menikmati kemuliaanNya?
Allah menginginkan manusia menikmati
Karena melihat berbagai macam kesulitan, penderitaan dan masalah yang tidak ada habis-habisnya dalam hidup ini, membuat banyak manusia yang menganggap seolah-olah Allah tidak menginginkan manusia menikmati dan bahagia. Manusia hanya bisa menderita dan seumur hidup jarang merasakan kebahagiaan. Betulkah Allah tidak menginginkan manusia menikmati? Untuk melihatnya kita harus kembali lagi dari Penciptaan.
Fakta bahwa manusia dicipta dalam gambar Allah, seharusnya bisa diambil kesimpulan bahwa Allah menginginkan manusia bisa menikmati Allah sekaligus juga bisa menikmati sesama manusia dan ciptaan-ciptaan yang lain, seperti Allah menikmatinya. Manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan segala macam kenikmatan karena dicipta dengan unik sebagai gambar Allah.
Kita bisa melihat bagaimana Allah menginginkan manusia menikmati pada saat menyediakan makanan bagi manusia. Alkitab di dalam Kej 2:9 menunjukkan betapa besarnya kenikmatan yang disediakan Allah bagi manusia. Allah menumbuhkan berbagai macam pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya. Allah tidak hanya menyediakan kebutuhan manusia, yang baik untuk dimakan, tetapi juga Ia menyediakan ‘yang menarik’. Kata ‘menarik’ dalam bahasa aslinya berarti juga yang ‘nikmat’. Apakah manusia membutuhkan kenikmatan bagi tubuh untuk bisa hidup? Mengapa Allah tidak menciptakan berbagai macam buah dengan rasa yang sama, misalnya rasa ketimun? Bukankah yang penting adalah karbohidrat, protein, vitamin, mineral, lemak, dll yang penting bagi metabolisme dan pertumbuhan serta kesehatan tubuh?
Ternyata Allah memang memberikan kenikmatan di dalam makanan bukan hanya sekedar manusia memenuhi kebutuhannya, tetapi juga agar manusia bisa menikmati, puas dan bersyukur kepada Allah.
Begitu juga dengan pekerjaan yang Tuhan Allah berikan kepada manusia. Manusia diangkat menjadi wakil Allah di bumi ini, dengan menaklukkan dan berkuasa atas bumi ini. Manusia menjadi raja yang memerintah bumi ini. Di dalam memerintah dan bekerja di bumi ini, manusia pada saat mengusahakan dan memelihara Taman Eden saat itu juga sedang beribadah dan melayani Allah. Alkitab tidak menunjukkan sama sekali tanda-tanda kesulitan dan protes dari manusia atas pekerjaan yang diberikan Allah. Manusia bekerja dengan bebas dan tanpa beban untuk menghasilkan uang yang diperlukan untuk membeli kenikmatan (makanan, tempat tinggal dan hiburan2 lainnya). Semua kenikmatan sudah disediakan oleh Allah, baik itu makanan, melihat keindahan bumi, melihat kebun binatang maupun dalam persekutuan dengan sesama manusia. Adam dan Hawa seharusnya betul-betul menikmati pekerjaan mereka saat itu.
Allah juga memberikan kenikmatan di dalam sex kepada manusia pertama. Manusia dicipta laki-laki dan perempuan, dan menjadi pasangan yang sepadan. Mengapa Allah tidak hanya menciptakan semua laki-laki saja atau tanpa gender? Bukankah Allah bisa terus mencipta lagi? Tidak perlu ada wanita, tidak perlu ada yang melahirkan? Tidak ada perselingkuhan, tidak ada pelacuran? Bukankah kalau manusia dicipta seperti malaikat maka manusia tidak perlu kawin dan mengawinkan? Sebagian berpendapat karena manusia harus bertambah banyak dan berlipat ganda. Sebenarnya, Allah juga memberikan kenikmatan di dalam hubungan sex antara laki-laki dan perempuan.
Kita bisa melihat dengan jelas kenikmatan ini di dalam Kej 2. Adam diberikan binatang untuk dinamai, tetapi Adam merasa sendiri dan membutuhkan pasangan yang sepadan. Allah kemudian mencipta Hawa dari tulang rusuk Adam. Yang terjadi kemudian adalah Adam memuji dan menikmati Hawa (dan sebaliknya), mereka telanjang dan kemudian mereka berdua menjadi satu. Hubungan sex menjadi salah satu kenikmatan tertinggi yang bisa didapatkan di dalam hubungan antar sesama manusia.
Karena Allah ingin manusia bisa menikmati hidup ini maka meskipun manusia berdosa dan melawan Allah, tetapi Allah justru datang mencari manusia, menebus dan menguduskan manusia. Allah melakukan semuanya ini agar manusia bisa menikmati segala kelimpahan yang sudah disediakanNya. Manusia yang ditebus dan dikuduskan seharusnya bisa lebih menikmati segala kelimpahan yang sudah disediakan Allah. Bahkan Allah terus menyertai umatNya dan tidak pernah meninggalkan umatNya. Artinya, segala berkat rohani dari sorga sudah dilimpahkan kepada kita manusia, ada kenikmatan yang luar biasa yang sudah disediakan Allah bagi umatNya.
Maka berbahagialah kita yang mengerti bagaimana Allah menikmati dan bagaimana kita bisa menikmati Allah dan segala kelimpahan berkatNya.
Bagaimana manusia bisa menikmati Allah akan dibahas dalam bab 4, sedangkan bagaimana menikmati semua anugerah dan pemberian Allah akan dibahas dalam bab 5.
Labels: Bab 3, Mari Menikmati
Dimana Allah ketika saya menikmati?
Meskipun setiap manusia menginginkan kepuasan, kebahagiaan dan kenikmatan, tetapi tidak berarti bahwa setiap manusia memiliki cara pandang yang sama tentang kenikmatan dan bagaimana mendapatkannya.
Cara pandang yang dimiliki oleh manusia dipengaruhi oleh budaya, keluarga, lingkungan, iman dan tentu saja teologinya. Misalnya, dibeberapa daerah di Indonesia ada pendapat yang melihat profesi sebagai dokter atau pegawai negeri adalah profesi yang paling sukses, membahagiakan dan penuh dengan kenikmatan. Itu sebabnya mereka berlomba-lomba menjadikan anaknya dokter atau pegawai negeri. Di tempat yang lain, profesi pengusaha justru lebih penting.
Saya mencoba mengklasifikasikannya ke dalam lima cara pandang yang besar bagaimana manusia melihat kenikmatan. Meskipun sulit untuk mengklasifikasikan setiap orang pada satu cara pandang, karena manusia sering tidak konsisten dan dualistis. Di dalam satu kasus ia mungkin memiliki satu cara pandang, tetapi dalam beberapa kasus yang lain, cara pandangnyapun berbeda. Meskipun demikian saya ingin menunjukkan pembagian secara umum.
Mengejar kenikmatan sementara
Cara pandang yang pertama ini adalah yang umum dan dimiliki oleh setiap manusia sejak manusia jatuh dalam dosa. Kejatuhan manusia di dalam dosa membuat segala kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan menjadi jauh dari manusia. Manusia mengalami penderitaan, kesulitan, kerja menjadi beban dan kadang-kadang dianggap sebagai kutuk. Hubungan antara pria dan wanita, suami-isteri, orang tua dan anak menjadi rusak. Begitu juga hubungan antar sesama manusia menjadi rusak dan sulit. Terjadi perbedaan bahasa, ras, suku dan kepentingan. Perang, bencana alam dan berbagai musibah tidak pernah berhenti. Begitu juga sakit-penyakit tidak pernah berhenti di dalam hidup manusia. Keinginan manusia ingin lepas dari semuanya dan mendapatkan hidup bahagia yang bisa dinikmati. Hidup hanya sekali, mengapa harus diisi dengan penderitaan dan kesulitan?
Maka dengan pemikirannya manusia mencari jalan keluar dari segala kesulitan ini. Ada yang mencarinya melalui Allah. Banyak orang-orang yang beragama memakai nama Allah dan mencari Allah untuk bisa melepaskan dari kesulitan2 yang ada di dunia ini. Mereka berpikir bahwa kalau ibadah dengan segenap hati maka Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan yang ada dan akan memberikan segala hal yang diinginkan hati mereka. Jika Allah memberikan semua keinginan hati mereka, maka mereka akan bahagia, puas dan menikmati hidup ini. Jadi Allah ada untuk kenikmatan pribadi. Bagaimana kalau Allah tidak memberikan apa yang diinginkan hati mereka? Masihkah mereka beribadah kepada Allah yang mereka percayai? Mungkinkah mereka akan beribadah lebih baik lagi, atau mungkin mencari jalan keluar yang lain?!
Sebagian lagi mencari jalan keluar yang dianggap paling bisa membawa mereka keluar dari segala kesulitan yang ada, UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Uang yang banyak dianggap oleh sebagian manusia sebagai jalan keluar dari segala kesulitannya. Karena dengan uang yang banyak, manusia bisa membeli semua kenikmatan sementara yang diinginkannya. Pakaian bermerek, rumah, mobil, villa, perjalanan keliling dunia, berobat ke rumah sakit yang terbaik, pendidikan yang terbaik dan bahkan bisa membeli pasangan hidup!? Apa yang tidak bisa dibeli oleh uang? Apalagi kalau hidup di Indonesia, money speaks louder than everything!? Wow!
Tetapi kenyataannya uang ternyata tidak bisa membeli semuanya. Ketika manusia harus mati, uang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak peduli uangnya seberapa banyak, tidak akan pernah bisa membuat orang yang mati bangkit kembali. Uang tidak bisa menghalangi bencana-bencana alam dan musibah yang terjadi. Uang hanya bisa meringankan kesulitan yang sudah terjadi tetapi kuasanya tidak sebesar yang dipikirkan manusia. Uang tidak bisa memperbaiki kerusakan relasi yang terjadi di dalam keluarga, antara orang tua dan anak, suami-isteri, ataupun sesama saudara. Justru karena mencari uang dan memperebutkan uang/warisan yang membuat banyak keluarga hancur berantakan. Uang hanya bisa membeli cinta palsu yang akan menghancurkan, tetapi tidak bisa membeli cinta sejati.
Pada akhirnya, ketika uang dan usaha manusia tidak bisa membuat manusia keluar dari kesulitannya, maka sebagian manusia akan bunuh diri dalam kekecewaan atas hidup ini atau kembali kepada Allah, berharap ada jalan keluar dari semua kesulitannya.
Ada dua jenis orang yang mengejar kenikmatan sementara ini. Pertama, orang-orang yang menginginkan semuanya terjadi dengan instan. Orang-orang seperti ini ingin dengan cepat mendapatkan kesuksesan, kebahagiaan dan kenikmatan di dunia ini. Sebagian akhirnya menghalalkan segala cara, yang penting kaya, sukses, sehat, bahagia dan puas. Tidak peduli jalan seperti apa yang ditempuh, siapapun bisa dikorbankan termasuk keluarga sendiri. Orang-orang seperti ini sering menjadi penipu-penipu yang ulung. Menipu diri sendiri dan menipu orang lain. Tetapi juga mungkin menjadi korban penipuan.
Yang sakit ingin cepat sembuh pergi ke dokter langsung disuntikkan antibiotik yang keras dan sembuh dalam satu hari. Ingin cepat menyelesaikan masalahnya dengan menipu diri sendiri dan ditipu oleh dokter yang mendapatkan keuntungan besar.
Kalau tidak sembuh-sembuh dari penyakit akut, maka banyak yang mencari mujizat kesembuhan atau pergi ke paranormal yang bisa menyembuhkan. Yang penting cepat sembuh dan bebas dari penderitaan.
Semakin ingin mengejar kenikmatan, maka hidupnya akan semakin menderita untuk mendapatkan semuanya. Dan bahkan hidupnya tidak akan pernah puas dengan segala kenikmatan yang diperolehnya. Banyak orang yang ingin mengejar kenikmatan sementara secara instan justru membuat hidupnya lebih sulit dan menderita dibandingkan sebelumnya, meskipun kelihatannya mereka bisa mendapatkan dan memiliki apa yang mereka inginkan. Contohnya: banyak anak-anak muda yang ingin menjadi artis dan orang terkenal, karena berpikir bahwa hidupnya mungkin akan lebih enak. Ternyata, sesudah menjadi terkenal, tidak ada privacy lagi, terus-menerus digosipin dan dikejar wartawan. Gaya hidup menjadi berubah, tidak bisa memakai dan mempergunakan barang-barang yang murah dan hanya bisa pergi ke tempat-tempat tertentu. Banyak artis dan orang terkenal yang disangka bahagia ternyata jauh dari bahagia.
Yang kedua, adalah orang yang mengerti bahwa mendapatkan kesuksesan, kebahagian dan kenikmatan harus melalui kerja keras. Orang-orang seperti ini mengisi masa mudanya dengan penderitaan dan kesulitan. Sebagian dari mereka ada yang tetap miskin, sakit dan mati sebelum mendapatkan segala keinginan hatinya, sementara sebagian lagi mendapatkan apa yang menjadi keinginan hatinya. Di antara mereka yang tetap miskin dan hidup dalam kesulitan ataupun sakit, ada yang kecewa dan bunuh diri karena melihat kejamnya hidup ini. Ada yang kecewa terhadap Tuhan, kecewa terhadap nasibnya yang kurang beruntung selama hidup di dunia ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya di dunia ini.
Sementara mereka yang dari kerja kerasnya berhasil mendapatkan apa yang diinginkan hatinya puas dan bangga dengan segala yang dikerjakannya. Sayang sekali banyak dari orang-orang yang sudah melalui kesulitan ini kurang bisa menikmati segala hal yang sudah didapatkannya. Mengapa? Karena banyak orang yang dari tidak memiliki apa-apa hidup dengan minim, berhemat dan melatih disiplin untuk dirinya. Kebiasaan ini dibawa terus sampai tua. Banyak yang dari orang-orang hemat menjadi pelit. Terus menumpuk hartanya dan jarang mempergunakan dan menikmatinya. Kenikmatannya justru di dalam bagaimana mereka bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Sementara mereka tetap berusaha hidup sederhana, kecuali di dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Siapa yang menikmati apa yang mereka dapatkan? Anak2 dan isteri2 mereka yang bukan hanya menikmati tetapi juga menghabiskannya.
Meskipun demikian, ada juga yang benar-benar bisa menikmati segala kerja keras dan puas dengan apa yang dicapainya. Mereka bisa menikmatinya karena mereka memiliki cara pandang yang berbeda.
Membuang semua kenikmatan sementara
Cara pandang kedua ini dimiliki oleh orang-orang yang menganut agama dengan fanatik. Umumnya mereka mengajarkan bahwa kalau mau mendapatkan kenikmatan yang tertinggi/kekal seharusnya menjauhi dan membuang kenikmatan sementara yang hanya membuat manusia berdosa dan menjauhi Penciptanya.
Pemikiran ini hanya berpusat kepada manusia yang jatuh dalam dosa. Dan mereka melihat bahwa semua kenikmatan sementara hanya membuat manusia jatuh dalam dosa dan bahkan melawan Penciptanya. Maka lebih baik jauhi semuanya dan buang segala keinginan untuk menikmati segala kelimpahan, segala kepuasan dan kenikmatan. Contohnya: jangan menginginkan kekayaan karena keinginan untuk menjadi kaya membuat manusia melakukan begitu banyak perbuatan dosa. Maka hindarilah untuk menjadi kaya dan kalau sudah terlanjur kaya, bagi-bagilah hartanya.
Dalam pemikiran mereka, yang lebih berguna adalah kenikmatan kekal yang sudah disediakan oleh Pencipta. Yang di dunia tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di surga. Maka lebih baik memikirkan kenikmatan dan kepuasan yang kekal yang ada di surga dengan banyak beribadah, berdoa dan berkorban dalam melayani Pencipta. Semakin membuang kenikmatan sementara dan semakin berkorban dalam hidup ini, maka semakin besar kenikmatan kekal yang akan didapatkan. Di dunia tidak apa-apa menderita, sakit, miskin dan hidup lebih sulit daripada orang-orang lain, karena itu yang seharusnya dialami oleh orang-orang yang tidak mengikuti dunia yang berdosa.
Kenikmatan mereka di dalam kesementaraan ini adalah waktu bisa menerima dan menjalankan hidup yang sulit dan menderita, dimana tidak semua orang sanggup melakukannya. Di samping itu kenikmatan didapatkan pada saat beribadah, saat-saat di mana mereka merasakan ada penyertaan, penghiburan dan perlindungan Allah. Mereka bisa merasakan ketenangan dan persetujuan dari Allah atas hidup mereka yang tidak sama dengan orang-orang berdosa yang hidup hanya untuk memuaskan nafsunya. Dan kenikmatan yang tertinggi yaitu waktu memikirkan dan mengharapkan kenikmatan kekal yang dijanjikan akan dinikmati.
Kalau dilihat, Allah dijadikan alasan untuk tidak menikmati semua kenikmatan sementara. Allah dianggap tidak menghendaki umat yang percaya untuk menikmati segala kesenangan dan kenikmatan di dunia ini. Allah hanya mau umatNya menikmati dalam ibadah kepadaNya dan yang ada di dalam kekekalan nantinya.
Cara pandang ini adalah cara pandang yang dualistis. Cara pandang yang membagi hidup ini menjadi dua bagian: rohani dan duniawi. Kenikmatan kekal dianggap rohani dan diwakili dangan ibadah dan doa, sedangkan kenikmatan sementara dianggap duniawi.
Kesulitan dari cara pandang ini, ibadah di dalam dunia yang berdosa ini seharusnya sudah dicemari oleh dosa juga. Betulkah ibadah mereka adalah yang paling benar dan tanpa cacat/dosa? Karena kenyataannya orang-orang yang kelihatan beragama dengan fanatik ternyata juga melakukan perbuatan-perbuatan yang radikal dan bahkan mengorbankan hidup banyak orang. Kalaupun tidak melakukan perbuatan-perbuatan radikal, maka biasanya mereka memandang rendah orang-orang lain dan bahkan menghina orang-orang yang tidak memiliki pandangan/kepercayaan seperti mereka.
Kesulitan selanjutnya adalah, mengapa Allah mencipta dunia ini? Ketika dunia ini dicemari oleh dosa mengapa terus dibiarkan? Apakah dunia ini hanya dipakai Allah untuk menguji umatNya? Ataukah kuasa Allah tidak sanggup menandingi kuasa dosa yang menguasai segala kenikmatan? Sepertinya aneh kalau Allah mencipta dunia ini dan melarang manusia untuk menikmatinya. Dan tetap menjadi suatu keanehan kalau sesudah manusia jatuh dalam dosa membuat manusia dilarang menikmati semua kenikmatan.
Membuang sebagian dan mengejar sebagian
Cara pandang ketiga ini dimiliki oleh orang-orang yang tidak ingin mengejar kenikmatan sementara dan ingin menjadi orang-orang yang bisa membuang semua kenikmatan sementara, tetapi menyadari bahwa banyak kenikmatan yang mereka perlukan yang bisa memuaskan hidup mereka. Orang-orang ini berada di persimpangan. Mereka kadang-kadang merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang saleh, tetapi juga merasa diri mereka sebagai orang-orang berdosa yang tidak sanggup menahan keinginan diri mereka untuk menikmati kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia ini. Kadang-kadang mereka juga meragukan pemikiran2 dari tokoh2 agama yang fanatik yang sepertinya melarang semuanya.
Orang-orang yang berada di dalam cara pandang seperti ini seringkali dianggap kompromi oleh orang-orang yang fanatik, tetapi dianggap kurang berani oleh orang-orang yang mengejar kenikmatan. Merekapun merasa seperti memiliki standar ganda. Yang ini boleh, sedangkan yang lain tidak boleh. Siapa yang membuat standar? Sebagian standar dari agama dan kepercayaan mereka, sedangkan sebagian lagi adalah standar dunia yang bagi mereka harus diikuti kalau tidak mau tersingkir dari dunia . Mereka kadang-kadang merasa sebagai orang-orang yang lemah di dalam hal-hal yang seharusnya mereka bisa berusaha lebih keras lagi.
Allah kadang-kadang dianggap sebagai pemberi segala berkat dan kenikmatan, tetapi juga kadang-kadang dilihat sebagai Jaksa yang sedang menuntut dan Hakim yang memandang diri mereka sebagai orang yang berdosa dan telah melakukan kesalahan. Ketika membuang dan menolak kenikmatan sementara mereka menganggap Allah menyertai mereka, tetapi ketika mereka mengejar kenikmatan sementara, mereka berusaha lari menjauhi dan menghindar dariNya.
Kebimbangan dan perasaan bersalahlah yang membuat orang-orang dengan cara pandang ini biasanya tidak akan lama dan berpindah kepada cara pandang yang lain. Cara pandang ini biasanya menjadi cara pandang peralihan dari orang-orang yang sedang bergumul dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik lagi.
Perubahan dari cara pandang ini umumnya dianggap bertobat kalau menjadi orang-orang yang fanatik dan membuang segala kenikmatan. Sedangkan yang dianggap murtad adalah orang-orang yang memilih untuk mengejar kenikmatan dan tidak menghiraukan semua kalimat dari para pemimpin agama yang dianggap terlalu fanatic dan munafik. Mereka yang memberontak umumnya adalah mereka yang sudah mencicipi kenimatan sementara yang dianggap lebih baik dibandingkan hanya menikmatinya serba tanggung.
Atau kalau tidak menjadi fanatik atau pengejar kenikmatan sejati, mereka akan memilih jalan tengah untuk menjadi orang-orang yang menikmati tapi tanpa hasrat untuk mengejar kenikmatan.
Menikmati tapi tanpa hasrat untuk mengejar kenikmatan
Kita mungkin seringkali kaget dan kagum melihat orang-orang yang kelihatan begitu pasrah dan menerima segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini. Bahkan mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar kepuasan, kebahagiaan dan kenikmatan. Apapun yang terjadi mereka bisa menerimanya karena mereka tidak merasa bisa melakukan sesuatu untuk merubahnya. Banyak orang ketika melihat orang-orang seperti ini merasa iri dan menginginkan untuk menjadi seperti mereka sehingga hidup bisa lebih tenang dan menerima realita.
Orang-orang ini tidak mengejar kenikmatan sementara dan juga tidak membuang kenikmatan sementara. Tidak menjadi orang-orang yang terlalu bebas mengejar kenikmatan sementara yang memuaskan nafsu, tetapi juga tidak menjadi orang-orang yang fanatik sampai harus membuang kenikmatan sementara. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang realistis, tapi cenderung pasif. Kalau kenikmatan itu datang ya diterima, tapi tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan kenikmatan itu. Semuanya sudah ada yang mengatur.
Mereka melihat Allah sebagai sumber yang mengatur dan memberikan semua kenikmatan itu. Dalam keadilan Allah mengatur semuanya, dan Ia mendistribusikannya dengan baik. Ada yang harus mendapatkan banyak dan ada yang hanya sedikit, semuanya sudah diatur dengan baik dan adil. Manusia hanya perlu menerimanya dan bersyukur kepada Allah yang sudah memberinya. Sedikit atau banyak semuanya disyukuri.
Kelihatannya cara pandang ini adalah cara pandang yang moderat yang bisa menjadi jalan keluar dari kesulitan manusia berhubungan dengan kenikmatan. Tapi tunggu dulu. Betulkah cara pandang ini tidak memiliki kelemahan dan kekurangan?
Meskipun cara pandang ini bisa membantu orang-orang untuk kelihatan realistis menerima hidup dan bersyukur atas semuanya, tetapi ada kekurangan yang besar di dalam cara pandang ini. Kekurangannya, ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya serta manusia, Ia mengatakan sungguh amat baik dan Allah berhenti mencipta. Ada kepuasan dan kenikmatan besar. Dan Allah memberikan kepuasan dan kenikmatan yang berlimpah kepada manusia untuk memuliakanNya. Meskipun semuanya sudah dicemari oleh dosa, kenikmatan yang sementara itu seharusnya bisa dinikmati dalam kelimpahannya. Maka perlu usaha, dengan kerja keras untuk menikmati semua kelimpahan itu.
Ketika seseorang tidak mengusahakan dan menikmati segala kelimpahan anugerah Allah dengan segala daya upaya, maka sebenarnya orang itu sedang ‘membiarkan’ segala anugerah yang berlimpah itu yang berasal dari Allah. Artinya, sebenarnya orang itu sedang ‘menghina’ Allah yang sudah memberikan anugerah yang berlimpah itu seolah-olah Allah tidak mengerti bagaimana mendistribusikannya dengan benar dan memberikan apa adanya. Padahal Ia memberikannya dengan berlimpah.
Orang-orang dengan cara pandang ini sangat percaya dan bersyukur kepada Allah, bahkan berbagian dalam pelayanan. Tapi, mungkin mereka beribadah dan melayani dengan seadanya, tidak ada hasrat yang besar seperti orang-orang yang memakai Allah untuk kepentingan kenikmatan mereka ataupun orang-orang yang fanatik yang ingin mendapatkan kenikmatan kekal dan penghiburan serta jaminan hidup dalam kesementaraan ini. Sebagian dari mereka beribadah bergantung dari berapa besar anugerah yang mereka dapatkan, begitu juga mereka berespon kepada Allah.
Mereka tidak berusaha melihat berapa besar kapasitas yang sudah Allah berikan kepada mereka untuk berusaha dan menikmati semua yang sudah Allah sediakan kepada mereka. Padahal bagi orang-orang tertentu yang diberikan kapasitas yang besar oleh Allah, mereka seharusnya melakukan usaha yang lebih besar lagi untuk sampai kepada batas maksimal. Dan usaha yang maksimal ini akan berdampak kepada kenikmatan sementara yang lebih bagi yang akan didapatkan dibandingkan sebelumnya. Semua ini juga Allah yang sudah mengaturnya.
Manusia memang perlu puas dan bersyukur serta menikmati semua pemberian Allah. Sedikit atau banyak lihatlah sebagai kelimpahan. Tetapi, jangan pernah puas dengan respon kita kepada Allah, hidup atau mati sekalipun, biasanya terlalu sedikit dibandingkan dengan anugerahNya yang berlimpah kepada kita.
Respon manusia biasanya tergantung kepada berapa banyak ia melihat kelimpahan anugerah dalam hidupnya. Maka biarlah mata rohani kita bisa melihat dan mengejar kelimpahan yang sudah Allah sediakan yang merupakan anugerahNya bagi kita untuk memuliakanNya dan menikmatiNya.
Kenikmatan sementara adalah Anugerah Allah untuk memuliakan Allah dan belajar menikmati Allah
Cara pandang ini melihat bahwa ketika Allah selesai mencipta, Ia mengatakan, “Sungguh amat baik”. Ada kepuasan dan kenikmatan di dalamNya. Ia memberikan kenikmatan ini kepada manusia yang dicipta dalam GambarNya. Manusia bisa berpikir, merasakan, menikmati dan puas baik di dalam hubungannya dengan Penciptanya maupun dengan semua ciptaan yang lain. Hanya manusia yang bisa menikmati semua relasi ini dengan baik.
Masalahnya manusia jatuh dalam dosa yang membuat semua kenikmatan itu dicemari oleh dosa. Tetapi bukan berarti harus membuang semua kenikmatan yang pada awalnya adalah pemberian Allah bagi manusia.
Dalam pemikiran orang-orang yang memiliki cara pandang ini, kenikmatan sementarapun adalah anugerah Allah yang harus ditebus dan dikuduskan terlebih dulu, dalam pengertian ada perubahan/transformasi dari kenikmatan sementara yang dicemari dosa menjadi kenikmatan sementara yang kudus dan suci. Maka, justru semua kenikmatan sementara itu harus dinikmati, karena itu pemberian Allah yang harus dihargai.
Semua yang belum ditebus dan dikuduskan adalah duniawi, tetapi semua yang sudah ditebus dan dikuduskan adalah rohani, suci dan sakral. Bagi orang najis, semua najis, tetapi bagi orang suci semuanya suci. Siapa yang menebus dan menguduskan? Allah sendiri yang melakukan semuanya, manusia tinggal mencari, melihat semua anugerah itu dan menikmatinya.
Selain itu, kenikmatan sementara tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran untuk menikmati kenikmatan kekal. Kenikmatan sementara ini bukan hanya kenikmatan yang berdiri sendiri untuk kesementaraan ini, melainkan juga bagian dari pembelajaran di dalam menikmati segala kenikmatan yang lebih baik, suci dan murni di dalam kekekalan. Dan bahkan kenikmatan yang sementara ini justru harus dinikmati untuk menikmati sumber kenikmatan itu sendiri, yaitu sang Pencipta yang seharusnya lebih nikmat karena Ia adalah sang sumber kenikmatan.
Jadi, Allah adalah sumber kenikmatan yang memberikan anugerah kenikmatan yang seharusnya bisa dimuliakan dan dinikmati di dalam setiap kenikmatan yang bersumber dari padanya. Sebagai sumber dari kenikmatan maka Allah adalah kenikmatan yang tertinggi dan termurni. Tidak ada yang lebih indah, agung, cantik, manis melebihi Allah. Tidak ada yang lebih bisa menghibur, menguatkan, membuat kita tertawa, bahagia dan bersukacita yang melebihi Allah.
Menjawab pertanyaan, “Dimana Allah saat saya menikmati?” Allah menjadi sumber, yang menyertai dan yang menjadi tujuan akhir di dalam kenikmatan.
What is the chief end of man? Man’s chief end is to glorify God and to enjoy Him forever.
Kesulitan, masalah, penyakit tidak lebih banyak dan lebih besar daripada Allah dan semua kenikmatan (termasuk kenikmatan sementara) yang sudah disediakanNya. Itu sebabnya, dalam segala keadaan manusia bisa puas, bahagia dan menikmati. Kenikmatan tidak bergantung kepada berapa besar kenikmatan sementara yang diberikan kepada manusia, melainkan kepada seberapa besar anugerah Allah yang diberikan, seberapa besar manusia melihat penyertaan Allah dan seberapa besar usaha manusia di dalam memanfaatkan semua pemberian itu untuk memuliakan dan menikmati Allah. Jadi, hidup ini tidak terikat dengan segala pemberian, melainkan bebas dari semuanya. Keterikatan yang ada hanyalah kepada Allah yang menjadi sumber dari semuanya.
Meskipun kenikmatan sudah disediakan Allah semuanya, tapi bukan berarti menjadi orang-orang yang pasif dan hanya menunggu semuanya diberikan Allah. Justru karena Allah sudah menyediakan segala kelimpahan, maka butuh usaha yang lebih keras sebagai ucapan syukur untuk melihat semua itu, mengejarnya dan mengusahakannya sampai di dalam batas maksimal untuk kemuliaan Allah. Usaha keras ini akan menunjukkan dan membuktikan dan menggenapi semua rencanaNya yang sudah menyediakan segala kelimpahan kenikmatan di dalam segala keadaan.
Anda berada di mana?
Saya melihat cara pandang yang terakhir merupakan cara pandang yang terbaik. Cara pandang ini melihat Allah di dalam posisinya yang benar, tetapi juga tidak membuat manusia menjadi pasif dan tidak memerlukan apa-apa. Manusia tetap menjadi aktif di dalam melihat anugerah Allah yang harus dimanfaatkan dan dinikmatinya.
Sesungguhnya, manusia hanya berada di dalam dua kemungkinan cara pandang. Kemungkinan pertama adalah berubah-ubah dari cara pandang ke- 1,2,3,4 dalam berbagai kasus di dalam waktu-waktu tertentu hidupnya. Sementara kemungkinan kedua, berada di dalam cara pandang kelima semakin hari semakin bertumbuh dalam segala aspek yang terus dibukakan, menikmatinya untuk memuliakan dan menikmati Allah.
Labels: Bab 2, Mari Menikmati
Berdosakah kalau Saya mengejar Kenikmatan dan Kebahagiaan?
Berdosakah kalau kita menikmati dan hidup dalam kenikmatan?
Setiap orang mencari kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan dalam hidup ini. Entah caranya menyiksa dirinya, bersusah-susah dahulu atau memanjakan dirinya, pada akhirnya semua orang menginginkan bisa merasakan kebahagiaan.
Orang-orang yang terbiasa dengan hidup yang keras terhadap dirinya dan berusaha terus-menerus memikul salib, akhirnyapun menikmati apa yang dilakukannya, sambil membayangkan kenikmatan akhir yang akan didapatkannya.
Masalahnya, mengejar sudah dianggap sebagai keberdosaan dan egois. Hal ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bisa memikul salib dan sangkal diri. Orang-orang yang hanya mengikuti keinginan dunia ini dan berlawanan dengan kehendak Allah.
Apakah betul bahwa kenikmatan selalu berhubungan dengan keberdosaan?
Definisi Kenikmatan
Kata kenikmatan (enjoyment) lebih dekat dengan satu kata di dalam bahasa Yunani, eudaimon, artinya ‘bahagia’. Sementara Webster sendiri menjelaskan kenikmatan adalah pikiran yang puas; sensasi atau emosi yang serasi; perasaan yang dihasilkan oleh sukacita atau pengharapan akan kebaikan. Jadi, kenikmatan adalah kondisi ideal yang diharapkan manusia. Kondisi di mana manusia berbahagia dan bisa menikmati hidupnya.
Kenikmatan itu sendiri bisa benar tetapi juga bisa berdosa bergantung dari motivasi dan akibat dari apa yang dinikmati. Ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu kita. Apakah kita mengejarnya hanya untuk pemuasan nafsu yang berdosa? Ataukah itu datang tanpa kita mencarinya? Ataukah kita mengejarnya dengan memuliakan Allah? Begitu juga dengan tanggapan kita ketika kenikmatan itu hadir? Adakah kita begitu memujanya, terikat dengannya dan melupakan sumbernya? Ataukah kita bisa menikmati tanpa terikat dan memuliakan Allah yang menjadi sumbernya. Apakah kenikmatan itu berakibat buruk terhadap hidup kita ataukah terus membuat kita bersukacita di dalam Allah? Puaskah kita dengan semua kenikmatan itu ataukah kita malah semakin bosan dengan segala kenikmatan itu?
Kenikmatan dan Sangkal Diri
Banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau menyangkal diri sama dengan membuang segala kenikmatan dan kesenangan. Karena tidak lagi mengikuti keinginan diri, diri kita sudah mati dan kita sudah dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru. Sementara dalam kenyataan hidup, ternyata manusia lama dan segala keinginannya belum tuntas bersih dalam hidup kita, meskipun secara status sudah bersih dan dijamin pasti akan bersih sempurna.
Keadaan ini membuat orang Kristen melihat kenikmatan hanyalah bersumber dari keinginan diri yang berdosa yang seharusnya sudah tidak ada lagi dalam diri orang percaya. Dan kalaupun itu tetap ada, maka kenikmatan adalah pencobaan yang berasal dari si jahat yang ingin menjatuhkan orang percaya.
Tetapi, kalau kita memikirkan lebih lanjut, maka kita seharusnya membedakan dua macam kenikmatan. Kenikmatan yang berdosa dan kenikmatan yang suci. Kenikmatan yang berdosa adalah kenikmatan yang bertentangan dengan penyangkalan diri. Kenikmatan ini adalah kenikmatan yang dimiliki oleh orang-orang tidak percaya, dimana iblis yang menjadi sumber dari kenikmatan ini.
Sementara kenikmatan yang sejati adalah kenikmatan yang dimiliki tanpa membuang penyangkalan diri, melainkan di dalam penyangkalan diri. Kenikmatan ini bersumber dari Allah dan tujuan paling akhirnya pada Allah.
Orang yang menyangkal dirinya bagi Kristus adalah orang-orang yang melihat kepentingan, keinginan dan kehendak Allah melebihi keinginan dan kehendak pribadi. Maka pertanyaannya, apakah Allah menginginkan kita menderita dan tidak ada kenikmatan sama sekali seumur hidup kita?
Dan kalau kita memperhatikan dengan lebih seksama, maka orang-orang yang menyangkal dirinya, awalnya seperti dalam kesulitan dan penderitaan dan bahkan kelihatannya membuang segala kenikmatan dunia. Tetapi, kalau kita perhatikan lebih lanjut maka orang-orang yang kelihata membuang segala kenikmatan ternyata adalah orang-orang yang lebih puas dan bahkan bisa menikmati hal-hal yang paling sederhana di bumi ini dengan ucapan syukur kepada Allah.
Orang-orang yang menganggap harta, hiburan, dan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia serta mengikuti segala keinginan hatinya adalah kenikmatan yang tertinggi, akan menganggap sangkal diri menjadi hidup tanpa kenikmatan dan kehilangan kenikmatan. Tetapi, orang-orang yang salah melihat pengertian sangkal diri dengan membuang semua kenikmatanpun akan tetap menikmati, karena orang-orang itu bisa melihat apa yang baik dan benar sehingga pada akhirnya akan menikmati meskipun hidupnya dibatasi dengan banyak hal yang tidak boleh.
Apalagi dengan orang-orang yang mengerti penyangkalan diri yang benar, seharusnya bisa lebih menikmati karena tidak membuang kenikmatan, melainkan menguduskan kenikmatan itu untuk memuliakan dan menikmati Allah.
Selanjutnya, bagaimana dengan Pikul Salib? Bukankah tidak ada kenikmatan sama sekali di dalamnya, kecuali orang-orang yang suka menderita yang akan menikmatinya?!
Kenikmatan dan Pikul Salib
Sepertinya tidak ada yang bisa menikmati ketika memikul Salib. Jalan penderitaan dan menuju kematian. Kesaksian banyak orang yang bersedia menjadi martir dan melakukan apa saja penuh ‘pengorbanan’ demi Kristus dinyatakan dan dimuliakan sepertinya hanya menunjukkan hidup yang penuh penderitaan dan tidak ada kenikmatan sama sekali.
Tetapi, ketika kita membaca buku, mendengar kesaksian atau menonton film-film yang menceritakan tentang orang-orang yang memikul salib, mengapa kita terharu, bersukacita dan tidak ada perasaan menderita sama sekali? Apakah orang-orang yang mengalami semua penderitaan itu tidak memiliki perasaan yang sama seperti kita orang-orang percaya yang mengerti makna salib dan pikul salib?
Apakah karena kita tidak mengalami penderitaan itu maka kita bisa bersukacita? Dan penderitaan mereka terlalu berat untuk merasakan sukacita yang seperti kita alami?
Ternyata dari kesaksian-kesaksian yang ada dan tentunya yang terutama dari Alkitab, kita bisa membaca, mendengar dan melihat bahwa mereka yang mengalami penderitaan dan bahkan harus mati mengikuti jalan salib Kristus justru lebih berbahagia, puas dan menikmati sekalipun harus menanggung penderitaan itu. Tentunya bukan sakit dan penderitaan yang membuat mereka puas, bersukacita dan menikmati, melainkan ketika mereka dianggap layak menderita bagi Kristus, diberi kesempatan dan anugerah melakukan kehendak Allah. Ya, kepuasan mereka karena melakukan kehendak Allah. Itulah yang membuat mereka tetap bersukacita.
Orang-orang yang terlalu mencintai diri dan nyawanya dan menganggap dirinya tidak boleh mengalami penderitaan dan kesulitan, apalagi mati, tidak akan mau memikul salib karena menganggap akan kehilangan segala kebahagiaan dan kepuasannya yang berpusat kepada dirinya sendiri. Orang-orang ini akan mengalami kesulitan yang besar ketika harus kehilangan semua sumber kenikmatannya. Karena semua kenikmatan sementara pasti akan hilang, hanya tinggal menunggu waktu. Apakah itu kecantikan masa muda, kesehatan, kekayaan, dan segala macam penghiburan yang ditawarkan oleh dunia, tidak ada yang kekal.
Tetapi orang yang memikul salib, menderita dan bahkan mati tidak mengalami masalah ketika harus meninggalkan semua kenikmatan yang sementara. Karena mereka sudah terbiasa menjaga jarak sambil menikmatinya dan mengerti bagaimana memanfaatkannya sesuai waktunya. Ketika harus meninggalkan semuanya, mereka sudah siap.
Jadi, sesungguhnya orang-orang yang menyangkal diri dan pikul salib adalah orang-orang yang paling bahagia, puas dan menikmati hidup ini. Lebih jelas lagi kita akan melihat perbedaan cara pandang yang ada sehingga kita bisa mengerti mengapa orang-orang yang menyangkal diri dan memikul salib bisa tetap menjadi orang-orang yang paling bahagia dan menikmati hidup ini.
Siapa yang berdosa?
Kalau betul begitu, mengapa kita tidak mengejar kenikmatan dan kebahagiaan yang sejati. Bukankah Allah sudah menyediakan semuanya bagi kita? Mengapa kita tidak melihatnya, memintanya dan menikmatinya? Bukankah itu juga adalah bagian dari kehendak Allah bagi kita?
Kita berdosa, ketika kita mengejar kenikmatan yang berdosa dan membuang penyangkalan diri dan salib yang harus dipikul. Tetapi, kita juga berdosa ketika memikul salib yang tidak harus dipikul dan membuang semua kenikmatan yang kudus yang sudah disediakan Allah bagi kita.
Kedua dosa ini terjadi pada saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan terus menjadi pola bagi manusia berdosa untuk terus berdosa dengan kenikmatannya.
Allah sudah menumbuhkan berbagai-bagai pohon yang buahnya menarik dan baik untuk dimakan. Kenikmatan yang didapatkan oleh manusia tanpa harus bekerja keras, semuanya sudah disediakan, yang menarik dan baik. Kenikmatan yang Allah anugerahkan banyak sekali, karena semua pohon di Taman Eden, kecuali pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat yang tidak disebutkan menarik dan baik untuk dimakan dan bahkan dilarang untuk dimakan. Hanya satu yang dilarang.
Ketika Adam dan Hawa tidak melihat semua pemberian ini sebagai anugerah kenikmatan yang bisa memuaskan hidup mereka, maka mereka berdosa karena tidak menghargai anugerah Allah. Hal ini tersirat dari percakapan antara Ular dan Hawa di dalam kisah sesudah Penciptaan dunia ini. Tipuan Iblis membuat seolah-seolah pemberian Allah kurang, ketika Ia memutar-balikkan kalimat Tuhan Allah yang mengatakan ‘semua boleh, kecuali’ digantikan dengan ‘semua tidak boleh’. Ternyata tipuan ini berhasil membuat Hawa masuk dalam perangkap Iblis, terlihat ketidakpuasannya dengan menambahkan kata ‘tidak boleh raba’. Tinggal selangkah lagi, jatuh ke dalam dosa berikutnya.
Dosa berikutnya, melihat kenikmatan sementara melebihi kenikmatan yang merupakan anugerah Allah. Buah pengetahuan yang baik dan jahat tidak pernah dikatakan menarik dan baik untuk dimakan. Tetapi, Hawa melihatnya menjadi berbeda. Hawa melihat buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Yang tidak menarik menjadi menarik, yang tidak nikmat menjadi nikmat. Dosa sudah memutar balikkan semuanya. Yang tidak memuaskan ditawarkan menjadi sangat memuaskan. Kenyataannya semakin dihibur, justru hidup semakin kosong dan semakin tidak puas.
Bagaimana dengan kenikmatan sejati yang sudah Allah sediakan? Adakah yang masih bisa melihatnya? Sekalipun harus menyangkal diri dan memikul salib untuk menikmatinya, mengapa tidak? Bagaimana melihatnya?
Labels: Bab 1, Mari Menikmati